Saya
bukanlah seseorang yang mengatakan bahwa setiap Gereja itu terpecah-pecah,
namun saya juga menyadari bahwa setiap Gereja memiliki ciri khas teologinya.
Hal ini sering kali tidak terlihat namun nyata dalam dasar-dasar dari suatu kelembagaan Gereja. Namun bukan berarti juga bahwa ajaran
teologi dari satu Bapa Gerejalah yang menyelamatkan manusia. Sebab, kesimpulan
teologis yang tidak dapat diragukan tentu tidak ada. Sejalan dengan Calvinisme,
pengajaran yang pertama kali sampai untuk memberitakan Kabar Baik bagi Gereja
saya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).
Salah
satu pengajarannya menjadi dasar dari laman yang saya tuliskan ini sebab bagi
pengajaran Calvinisme; Keselamatan semata-mata merupakan anugerah Allah, dan
hanya dapat diberikan oleh Allah, bahkan tidak dapat dituntut oleh manusia
karena perbuatan-perbuatan baik. Tetapi keselamatan itu juga tidak diterima dan
diberikan secara kebetulan saja, melainkan karena keputusan yang adalah
semata-mata keputusan Allah. Sehingga harus dihindari kesimpulan bahwa manusia
mampu untuk menentukan apakah ia mau diselamatkan atau tidak. Apalagi seorang
manusia menentukan keselamatan orang lain, tentulah tidak mungkin.[1]
Atau
secara sederhana saya ingin mengatakan bahwa Gereja ataupun Sosok Bapa Gereja
tidaklah menjadi dasar penentu keselamatan Allah. Sebab seperti halnya dengan pemahaman Calvinisme tersebut, hanya Allahlah yang dapat memisahkan yang baik dan yang jahat,
sebab manusia tidak mampu menentukan dengan pasti siapa diterima dan ditolak. Justru
itulah, ketika lahir bentuk kesalehan
Calvinis yang di Negeri Belanda disebut “Reformasi Lebih Lanjut” (Nadere
Reformatie) orang-orang mulai memeriksa diri untuk menemukan tanda tanda
pemilihan. Iman yang teguh dan perbuatan-perbuatan baik dianggap sebagai
tanda-tanda keterpilihan, sebab bukankah iman dan perbuatan-perbuatan baik
merupakan buah-buah pembenaran?
Namun
apakah seluruh oknum yang ada di GBKP memiliki cara pandang yang sama dalam hal
pengajaran ini? Tentu tidak! Bahkan tidak jarang oknum menjadi salah satu alasan
untuk seseorang berpindah Gereja. Karena itu, satu oknum tidak dapat
menguniversalkan banyak orang didalamnya.
Kedua,
bila saudara berfikir dalam sebuah Gereja haruslah ada sebuah inovasi dan
perubahan karena teologia yang terus berkembang. Saudara dan sayapun ada pada
pihak yang sama. Tetapi pertimbangan suatu inovasi ataupun perubahan, seharusnya tidak didasarkan karena kuantitas. Sebab kuantitas bukanlah sesuatu yang harusnya dikejar oleh
Gereja, sebab pertimbangan demikian hanya menghasilkan sebuah kompromi yang keliru.
Bahkan, justru membuat hilangnya kehadiran Gereja sebagai garam dan terang di
dunia.
Hanya saja, sebelum kita berfikir cepat-cepat untuk membuat suatu inovasi dan perubahan. Ada suatu kenyataan yang saya lihat bahwa, saya juga belum pernah menjumpai perfeksionis yang hidup tenteram (termasuk
saya). Karena kebutuhan untuk menjadi sempurna dan keinginan untuk mendapatkan
ketenangan batin merupakan dua hal yang bertentangan. Bila kita terikat untuk
mendapat sesuatu dengan cara tertentu, bukannya menerima yang sudah ada,
artinya kita sudah kalah dalam pertempuran, bukannya merasa puas dan bersyukur
atas apa yang kita miliki, kita terpaku pada apa yang masih kurang dan dorongan
untuk memperolehnya. Bila kita selalu berpikir ada yang kurang, artinya kita
selalu kecewa dan tidak puas. Itulah mengapa sering kali kita tidak dapat beribadah. Sebab, sikap selalu meributkan ketidaksempurnaan
akan menjauhkan kita dari tujuan kita untuk menjadi orang yang ingin beribadah
dan bersekutu. Ini bukan berarti kita tidak perlu lagi melakukan sebuah inovasi dan perubahan, tetapi ada sisi positif dari tidak terlalu terikat dan terpaku
pada apa yang kurang dalam hidup ini. Ini masalah menyadari realitas bahwa
selalu ada cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu sekaligus tetap bisa
menikmati atau menghargai cara yang sudah ada.
Bayangkan
perasaan yang tidak bisa menerima ketidaksempurnaan justru membuat saudara
tidak mendapatkan pencerahan ataupun tidak dapat memuliakan Allah, ketika orang lain justru sudah menerima pencerahan dan memuliakkan Allah. Oleh karena itu,
diantara kita perlu mengubah persepsi dengan berfikir “Apa yang hendak Tuhan ajarkan kepadaku, melalui mereka?”, ketimbang saudara terpaut pada persepsi seperti, “Mengapa
dia mampu berkata demikian, dalam ketidaksempurnannya?
Sikap demikian itu justru menunjukkan bahwa kita sedang memiliki kebiasaan mental yang rusak dalam beribadah. Kenyataannya adalah, bila kita memiliki kebiasaan mental yang merusak – mudah jengkel dan terganggu, sering kali merasa marah dan frustasi, atau terus-menerus berharap segala sesuatu berbeda, kecenderungan yang sama akan mengikuti kita, ke mana pun kita pergi. Dan hal sebaliknya juga berlaku. Karena itu bila kita memfokuskan diri untuk lebih berdamai dengan di mana kita berada, bukan berpikir di mana sebaiknya kita berada, kita akan mulai menemukan kedamaian sekarang juga, pada saat ini. Dengan demikian, bila kita beribadah di suatu Gereja yang denominasinya berbeda dengan saudara, dan bertemu dengan orang-orang baru, kita tetap merasakan kedamaian batin saat kembali bersekutu di Gereja kita. Sebab kita sudah berdamai dalam ketidaksempurnaan itu dan ikut menyadari bahwa pada hakikatnya Allah tidak terbatas pada satu Gedung Gereja, maka dimanapun kita berada disitu juga ada Allah. Termasuk kasihNya tidak terbatas oleh apapun dan dengan apapun, kecuali kita berhenti untuk mencoba merasakan kasihNya di beberapa tempat yang kita anggap oknum-oknum dalam Gerejanya tidak sempurna! Tetapi haruslah diingat pula, sekali-kali Gereja bukanlah alat untuk memuaskan kerohanian manusia dan peribadahan juga bukanlah pemuasan ego kita. Karena dalam kehidupan kita, yang terutama seharusnya Tuhan bukan ego kita!
Komentar
Posting Komentar