Tuhan Menyertai Aku Pekan Penatalayanan Hari Ketiga – Masmur 121:1-8 Vic Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM

 

Tidak semua perjalanan iman dimulai dengan keyakinan yang penuh. Ada hari-hari ketika kita datang beribadah dengan hati yang letih, pikiran yang penuh, dan doa yang nyaris tidak terucap. Ada saat-saat ketika kita tetap menyanyi dan berdoa, tetapi di dalam hati tersimpan pertanyaan: apakah Tuhan sungguh menyertai aku?

Alkitab tidak menghindari pertanyaan seperti ini. Justru sebaliknya, firman Tuhan lahir dari pengalaman umat yang nyata—umat yang pernah takut, jatuh, ragu, dan terluka, tetapi tetap berjalan bersama Tuhan. Melalui Filipi 1:29, 1 Korintus 10:11–13, dan Mazmur 121:1–8, kita diajak melihat penyertaan Tuhan bukan sebagai janji hidup tanpa masalah, melainkan kepastian kehadiran-Nya di tengah hidup yang penuh pergumulan.

Tuhan Menyertai, Meski Jalan Tidak Mudah (Filipi 1:29)

Rasul Paulus menulis kepada jemaat Filipi dari dalam penjara. Keadaannya jauh dari nyaman. Namun justru dari situ ia berkata bahwa kepada orang percaya bukan hanya dikaruniakan iman, tetapi juga penderitaan karena Kristus.

Firman ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Kristus bukan berarti hidup selalu lancar. Kadang kita kecewa karena merasa sudah setia berdoa dan melayani, tetapi masalah tetap datang. Namun firman Tuhan menolong kita melihat dengan cara yang berbeda: penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan, melainkan bagian dari perjalanan iman yang sedang dibentuk.

Tuhan menyertai kita bukan hanya saat kita kuat, tetapi juga saat kita lemah. Ia tidak menjanjikan jalan yang selalu mulus, tetapi Ia berjanji untuk berjalan bersama kita. Di tengah penderitaan, iman kita tidak dibiarkan kosong—Tuhan hadir memberi kekuatan yang baru.

Tuhan Menyertai Saat Iman Kita Rapuh (1 Korintus 10:11–13)

Paulus juga mengingatkan jemaat Korintus agar tidak merasa diri paling aman atau paling kuat. Ia berkata, siapa yang merasa teguh berdiri, hendaklah berjaga-jaga supaya tidak jatuh. Firman ini mengajak kita untuk rendah hati dalam iman.

Sering kali, kejatuhan rohani bukan terjadi karena kita tidak tahu firman Tuhan, melainkan karena kita merasa sudah cukup kuat. Kita mulai mengandalkan kebiasaan, pengalaman, atau peran kita di gereja, lalu lupa berjaga-jaga.

Namun kabar baiknya, Tuhan tidak meninggalkan kita dalam pencobaan. Paulus menegaskan bahwa Allah setia. Tuhan tahu batas kekuatan kita. Ia tidak membiarkan kita dicobai melampaui apa yang sanggup kita tanggung. Ia selalu menyediakan jalan, agar kita dapat bertahan.

Penyertaan Tuhan terlihat ketika kita masih mampu berdiri, meski hampir jatuh. Ketika kita masih memiliki kekuatan untuk berkata, “Tuhan, tolong aku,” itu pun sudah menjadi tanda bahwa Tuhan sedang bekerja.

Tuhan Menyertai dalam Setiap Langkah Hidup (Mazmur 121:1–8)

Mazmur 121 adalah nyanyian para peziarah—orang-orang yang sedang berjalan menuju Yerusalem. Perjalanan itu tidak mudah. Ada gunung yang terjal, panas di siang hari, dan dingin di malam hari. Di tengah perjalanan itulah pemazmur bertanya, “Dari manakah akan datang pertolonganku?”

Jawabannya sederhana tetapi penuh iman: pertolongan datang dari Tuhan, Pencipta langit dan bumi. Tuhan digambarkan sebagai Penjaga yang tidak pernah terlelap. Ia menjaga langkah kaki umat-Nya, keluar dan masuk, sekarang dan selama-lamanya.

Mazmur ini menguatkan kita bahwa penyertaan Tuhan bukan hanya saat ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan pergumulan hidup sehari-hari. Tuhan hadir ketika kita berangkat dan ketika kita pulang, ketika kita memulai dan ketika kita menyelesaikan.

Hidup dalam Keyakinan Akan Penyertaan Tuhan

Ketiga bagian firman Tuhan ini menolong kita memahami satu kebenaran penting: hidup orang percaya bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang disertai Tuhan. Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti masalah langsung selesai, tetapi hati kita dikuatkan untuk tetap berharap.

Ketika kita menderita, Tuhan menyertai.

Ketika kita diuji, Tuhan setia.

Ketika kita berjalan dalam ketidakpastian, Tuhan berjaga.

Karena itu, marilah kita belajar menghidupi pengakuan iman ini setiap hari—bukan hanya saat keadaan baik, tetapi juga saat hidup terasa berat:

Tuhan menyertai aku.

Kiranya keyakinan ini meneguhkan langkah kita, menguatkan iman kita, dan memberi pengharapan baru dalam setiap musim kehidupan, sampai selama-lamanya.

Komentar