Kesempatan Tidak Pernah Mencatat Jadwalnya di Kalender

 



Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Tunggu saja waktu yang tepat." Kalimat itu terdengar bijaksana. Masalahnya, waktu yang tepat sering kali hanya ada di dalam kepala kita. Kita membayangkan suatu hari nanti keadaan akan lebih baik. Tabungan sudah cukup. Kemampuan sudah memadai. Rasa percaya diri sudah penuh. Semua akan terasa lebih mudah. Lalu kita akan berkata, "Sekarang aku siap."

Sayangnya, kehidupan tidak bekerja seperti itu.

Kesempatan tidak pernah datang setelah kita selesai mempersiapkan segala sesuatu. Justru sebaliknya. Kesempatan sering kali datang ketika hidup masih berantakan, ketika kita masih penuh keraguan, ketika kemampuan kita belum sempurna, bahkan ketika kita sedang merasa tidak pantas untuk menerimanya.

Ironisnya, pada saat kesempatan itu datang, kita justru sibuk mencari alasan untuk menolaknya.

"Aku belum cukup pintar."

"Aku belum punya pengalaman."

"Nanti saja kalau kondisinya lebih baik."

Padahal, sering kali bukan kesempatan yang kurang baik. Yang kurang hanyalah keberanian untuk melangkah.

Kita memiliki kebiasaan yang aneh. Kita memperlakukan kesempatan seolah-olah ia adalah kereta yang selalu datang setiap lima belas menit. Kalau yang satu terlewat, masih ada kereta berikutnya. Kalau hari ini gagal, besok pasti ada lagi.

Memang benar, hidup memberi banyak kesempatan. Namun tidak semua kesempatan adalah kesempatan yang sama.

Kesempatan untuk belajar dari seorang guru tertentu mungkin hanya datang sekali. Kesempatan bertemu seseorang yang mengubah hidup kita mungkin hanya terjadi dalam satu percakapan singkat. Kesempatan memperbaiki hubungan dengan orang tua bisa hilang ketika maut datang lebih cepat daripada kata maaf. Kesempatan membangun usaha bisa berubah menjadi penyesalan ketika orang lain lebih dulu mewujudkan gagasan yang selama ini hanya kita simpan dalam catatan.

Bukan berarti hidup berhenti memberi peluang. Hanya saja, setiap peluang memiliki waktunya sendiri.

Sayangnya, kita terlalu sering menunggu kepastian.

Padahal kepastian adalah sesuatu yang hampir tidak pernah diberikan kehidupan.

Tidak ada orang yang benar-benar siap menjadi orang tua. Tidak ada pendeta yang merasa sudah sempurna sebelum melayani jemaat. Tidak ada penulis yang yakin seratus persen bahwa bukunya akan diterima pembaca. Tidak ada pengusaha yang mengetahui dengan pasti usahanya akan berhasil.

Semua orang melangkah sambil belajar.

Semua orang bertumbuh sambil berjalan.

Kesempatan bukan hadiah bagi mereka yang sudah sempurna. Kesempatan justru menjadi ruang bagi manusia untuk bertumbuh menuju kedewasaan.

Sering kali kita membayangkan bahwa keberanian muncul lebih dulu, lalu tindakan menyusul. Kenyataannya justru sebaliknya. Kita bertindak dengan segala ketakutan yang ada, lalu keberanian perlahan tumbuh di sepanjang perjalanan.

Mungkin inilah sebabnya banyak kisah besar lahir dari orang-orang biasa. Bukan karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa sejak awal, melainkan karena mereka bersedia mengatakan "ya" ketika kesempatan datang, meskipun tangan mereka masih gemetar.

Di sisi lain, ada bahaya yang lebih halus daripada kegagalan, yaitu penundaan.

Penundaan sering menyamar sebagai kebijaksanaan. Kita menyebutnya "sedang mempertimbangkan." Kita menyebutnya "sedang mempersiapkan diri." Padahal, bisa jadi yang sedang kita pelihara adalah rasa takut.

Takut gagal.

Takut ditolak.

Takut mengecewakan.

Takut ternyata kita tidak sebaik yang kita bayangkan.

Ketakutan itu wajar. Namun jika terus dipelihara, ia akan mengubah kesempatan menjadi penyesalan.

Akhirnya, kita bukan menyesali keputusan yang pernah diambil, melainkan keputusan yang tidak pernah berani diambil.

Hidup memang membutuhkan perencanaan. Menyusun target, membuat jadwal, dan menetapkan langkah-langkah adalah bagian dari tanggung jawab. Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa kita atur: kapan kesempatan mengetuk pintu.

Ia tidak meminta izin.

Ia tidak mengirim undangan.

Ia tidak menunggu sampai semua rencana kita selesai.

Kesempatan memiliki waktunya sendiri.

Karena itu, ketika kesempatan datang, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah keyakinan bahwa semuanya akan berhasil. Yang kita perlukan hanyalah keberanian untuk memulai.

Sebab sering kali, Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling siap. Tuhan sedang mencari orang yang bersedia melangkah.

Dan seperti banyak hal dalam kehidupan, kesempatan tidak pernah mencatat jadwal kedatangannya di kalender kita.

Komentar