Kita Terlalu Sering Membaca Logo, Bukan Buku




Ada satu pertanyaan yang sering muncul kepada penulis yang menerbitkan buku secara mandiri.

"Kenapa tidak diterbitkan di penerbit yang terkenal?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersembunyi cara berpikir yang cukup menarik. Kita sering kali tidak sedang menilai sebuah buku, tetapi sedang menilai logonya.

Ironisnya, banyak orang berkata, "Yang penting bukunya berkualitas." Namun ketika buku itu berasal dari penerbit yang tidak mereka kenal, penilaian berubah sebelum halaman pertama dibuka.

Padahal keduanya sama-sama memiliki ISBN.

Sayangnya, ISBN sering hanya menjadi angka yang dicetak di sampul belakang. Banyak orang melihatnya, tetapi sedikit yang memahami fungsinya. ISBN bukan penghargaan kualitas. ISBN bukan pula stempel bahwa sebuah buku pasti bagus. ISBN adalah identitas resmi sebuah terbitan agar dapat didata, dikatalogkan, dan diperdagangkan secara legal.

Namun dalam praktiknya, ISBN justru kalah pamor dibanding nama penerbit.

Seolah-olah kualitas sebuah gagasan ditentukan oleh besar kecilnya perusahaan yang mencetaknya.

Saya tidak menyalahkan siapa pun. Memang ada alasan mengapa penerbit besar lebih dipercaya. Mereka memiliki proses seleksi yang panjang, editor yang berpengalaman, jaringan distribusi yang luas, hingga strategi pemasaran yang matang. Semua itu tentu memiliki nilai.

Tetapi ada satu kenyataan yang jarang dibicarakan.

Masuk ke penerbit besar bukan hanya soal kualitas naskah.

Bagi banyak penulis, terutama penulis baru, ada biaya yang tidak sedikit. Mulai dari proses penerbitan, deposit, hingga jumlah cetak minimal yang harus dipenuhi. Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk sampai ke sana.

Maka sebagian memilih jalan lain.

Bukan karena naskahnya lebih buruk.

Bukan karena tidak percaya diri.

Melainkan karena dana yang dimiliki hanya cukup untuk mencetak sesuai kemampuan.

Self-publishing memberikan ruang itu. Penulis dapat menentukan jumlah cetak sesuai kondisi keuangan. Tidak harus mencetak ribuan eksemplar sekaligus. Tidak harus menunggu bertahun-tahun sampai ada kesempatan.

Buku tetap lahir.

Gagasan tetap berjalan.

Pembaca tetap bisa menemukannya.

Yang berbeda hanyalah logo di punggung buku.

Sayangnya, di sinilah satirnya.

Kita sering mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak penulis. Namun ketika seseorang benar-benar menulis dan menerbitkan bukunya secara mandiri, pertanyaan pertama justru bukan, "Apa isi bukunya?" melainkan, "Diterbitkan di mana?"

Seakan-akan yang sedang diuji bukan pemikirannya, melainkan mereknya.

Padahal sejarah memperlihatkan bahwa banyak karya besar justru lahir dari jalan yang tidak megah. Ada penulis yang naskahnya ditolak berkali-kali sebelum akhirnya diakui. Ada pula yang menerbitkan sendiri karyanya sebelum kemudian dibaca jutaan orang.

Nama penerbit memang dapat membuka pintu.

Namun yang membuat sebuah buku bertahan adalah isinya.

Logo mungkin membuat orang mengambil buku dari rak.

Tetapi hanya gagasan yang membuat mereka menyelesaikan bacaannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa penerbit terkenal tidak penting. Justru saya menghormati kerja keras mereka membangun reputasi selama bertahun-tahun.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa jangan sampai kita berhenti membaca hanya karena logonya tidak familiar.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang mencetak sebuah buku.

Sejarah lebih sering mengingat gagasan yang berhasil mengubah cara manusia berpikir.

Komentar