Menjadi Berkat di Tengah Dunia yang Tidak Adil: Ketika Kebaikan Tidak Lagi Menguntungkan

 

Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara manusia memandang kehidupan. Dahulu, orang bertanya apakah suatu tindakan itu benar. Kini, pertanyaan yang lebih sering muncul adalah, "Apa untungnya bagi saya?" Pergeseran ini tampak sederhana, tetapi ia mengubah hampir seluruh cara manusia membangun relasi. Persahabatan dinilai dari manfaatnya, pekerjaan diukur dari penghasilannya, pendidikan dipilih berdasarkan prospek ekonomi, bahkan pelayanan keagamaan tidak jarang dihargai sejauh memberikan kepuasan pribadi. Dunia perlahan-lahan membentuk manusia menjadi makhluk transaksional.

Dalam masyarakat seperti ini, melakukan kebaikan menjadi semakin sulit, bukan karena manusia tidak lagi mengenal nilai-nilai moral, tetapi karena kebaikan yang tidak menghasilkan keuntungan dianggap sebagai tindakan yang tidak rasional. Akibatnya, ketika seseorang menolong orang lain, pertanyaan yang muncul bukan lagi mengenai nilai tindakannya, melainkan mengenai balasan yang akan diterima. Jika tidak ada keuntungan yang diperoleh, tindakan tersebut dianggap sia-sia.

Cara berpikir ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan karakter individu. Ia merupakan produk dari struktur sosial. Sosiolog seperti Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa kehidupan sosial dibangun oleh berbagai bentuk modal: modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, bahkan modal simbolik. Dalam praktiknya, manusia terus belajar menginvestasikan setiap relasi untuk memperoleh keuntungan tertentu. Pertemanan menjadi jaringan, pelayanan menjadi reputasi, pendidikan menjadi investasi, bahkan solidaritas dapat berubah menjadi strategi membangun citra. Tidak mengherankan apabila masyarakat modern semakin sulit mempercayai kebaikan. Di balik setiap tindakan baik selalu muncul kecurigaan bahwa pasti ada kepentingan yang sedang disembunyikan.

Fenomena ini diperkuat oleh logika politik modern. Politik memang dibutuhkan untuk mengatur kehidupan bersama, tetapi ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, relasi antarmanusia berubah menjadi arena negosiasi kepentingan. Dukungan diberikan selama menguntungkan, kesetiaan bertahan selama masih ada manfaat, dan kepercayaan berakhir ketika keuntungan berhenti mengalir. Akibatnya, masyarakat belajar bahwa bertahan hidup berarti pandai menghitung untung-rugi. Dalam situasi seperti itu, ketidakadilan tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai konsekuensi yang harus diterima jika seseorang ingin berhasil.

Yang menarik, antropologi justru menunjukkan bahwa cara hidup seperti ini bukanlah sesuatu yang alamiah. Banyak masyarakat tradisional bertahan selama berabad-abad bukan karena mereka memiliki sistem ekonomi yang maju, melainkan karena mereka memelihara budaya pemberian. Marcel Mauss, dalam kajiannya tentang The Gift, menunjukkan bahwa pemberian pada mulanya bukan transaksi ekonomi. Memberi merupakan cara membangun relasi, kepercayaan, dan kehidupan bersama. Sebuah hadiah tidak selalu diberikan untuk memperoleh keuntungan langsung; ia menciptakan ikatan sosial yang membuat komunitas tetap hidup. Dengan kata lain, manusia pada dasarnya dibentuk bukan hanya oleh kemampuan bertukar, tetapi juga oleh kemampuan memberi.

Namun modernitas menggeser makna pemberian. Hampir segala sesuatu kini memiliki harga, sehingga manusia semakin sulit membayangkan adanya tindakan yang sungguh-sungguh gratis. Bahkan ketika seseorang melakukan kebaikan, masyarakat sering kali bertanya: "Apa motifnya?" Kecurigaan ini lahir karena dunia telah terlalu lama dibentuk oleh logika transaksi. Kita tidak lagi terbiasa menerima kasih tanpa syarat.

Di sinilah filsafat Emmanuel Levinas menjadi sangat relevan. Levinas berpendapat bahwa etika dimulai bukan ketika manusia memikirkan dirinya sendiri, melainkan ketika ia berjumpa dengan wajah orang lain. Wajah itu menghadirkan tuntutan moral yang tidak dapat direduksi menjadi kalkulasi untung-rugi. Sebelum saya bertanya apa hak saya, saya terlebih dahulu dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap sesama. Pandangan ini radikal karena bertentangan dengan budaya modern yang selalu menempatkan kepentingan individu sebagai titik awal.

Pemikiran Levinas juga mengoreksi kecenderungan etika yang terlalu berorientasi pada hasil. Dunia sering mengajarkan bahwa tindakan baik hanya layak dilakukan apabila menghasilkan perubahan yang besar. Padahal tidak semua kebaikan segera mengubah keadaan. Sebagian kebaikan justru mempertahankan kemanusiaan pelakunya ketika dunia sedang kehilangan arah. Dengan demikian, nilai sebuah tindakan tidak selalu ditentukan oleh keberhasilannya mengubah sistem, tetapi oleh kesetiaannya menjaga martabat manusia.

Perspektif ini menemukan resonansi yang mendalam dalam teologi Kristen. Alkitab tidak pernah memulai kisah manusia dengan dosa, melainkan dengan penciptaan. Sebelum manusia gagal, ia terlebih dahulu diciptakan menurut gambar Allah. Artinya, identitas manusia tidak dibangun di atas kemampuan bersaing, melainkan di atas panggilan untuk mencerminkan karakter Sang Pencipta. Allah sendiri adalah Pribadi yang memberi sebelum menerima. Penciptaan adalah anugerah, bukan transaksi. Matahari terbit bukan karena manusia pantas menerimanya. Hujan turun bukan sebagai upah atas kesalehan. Kehidupan diberikan terlebih dahulu, baru manusia meresponsnya. Dengan demikian, logika pertama dalam Alkitab bukanlah logika pertukaran, melainkan logika anugerah.

Karena itu, dosa tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengubah cara manusia memandang sesamanya. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, relasi berubah menjadi perebutan. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesama yang harus dikasihi, melainkan sebagai pesaing, ancaman, atau alat untuk mencapai tujuan pribadi. Ketidakadilan lahir dari cara pandang ini. Ia bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kerusakan relasional yang membuat manusia kehilangan kemampuan untuk memberi tanpa menghitung.

Di sinilah makna menjadi berkat memperoleh kedalaman teologisnya. Menjadi berkat bukan pertama-tama berarti menyelesaikan seluruh ketidakadilan dunia. Beban itu terlalu besar bagi manusia. Menjadi berkat berarti menghadirkan kembali logika anugerah di tengah masyarakat yang telah terbiasa hidup dalam logika transaksi. Setiap tindakan kasih yang tidak mencari keuntungan, setiap pengampunan yang tidak menuntut balasan, setiap pelayanan yang tidak mengejar pengakuan, merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya yang mengukur nilai manusia berdasarkan manfaatnya.

Barangkali inilah alasan mengapa Yesus tidak pernah menjadikan keberhasilan sebagai ukuran utama kehidupan. Ia lebih banyak berbicara tentang memberi daripada memiliki, melayani daripada dilayani, kehilangan daripada menguasai. Salib sendiri adalah antitesis terhadap dunia yang transaksional. Di sana tidak ada keuntungan politik, ekonomi, ataupun sosial. Yang ada hanyalah pemberian diri. Dalam terang salib, gereja dipanggil bukan sekadar mengutuk ketidakadilan, tetapi menjadi komunitas yang menunjukkan bahwa kehidupan masih dapat dibangun di atas anugerah.

Dunia mungkin tidak segera berubah. Ketidakadilan akan terus muncul dalam bentuk-bentuk baru. Namun setiap kali seseorang memilih melakukan kebaikan tanpa menghitung keuntungan pribadi, ia sedang menyatakan bahwa logika dunia bukanlah satu-satunya cara hidup yang mungkin. Ia sedang memperlihatkan bahwa anugerah masih memiliki tempat di tengah sejarah manusia. Dan mungkin, di sanalah letak kesaksian Kristen yang paling radikal: bukan hanya percaya bahwa Allah itu baik, tetapi berani hidup menurut logika kebaikan-Nya di tengah dunia yang telah lama melupakan arti memberi.


Komentar