Bagaimanakah dan Kemanakah Orang Beriman Setelah Kematian?

 

"Karena jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup maupun mati, kita adalah milik Tuhan." (Roma 14:8)

 

Beberapa waktu terakhir, saya mendapati satu pertanyaan yang terus berulang dalam berbagai percakapan pastoral, baik dalam persekutuan keluarga, kunjungan jemaat, maupun diskusi teologi: "Bagaimanakah dan kemanakah orang beriman setelah kematian?"

 


Pertanyaan ini bukan sekadar lahir dari rasa ingin tahu. Ia muncul dari pergumulan yang sangat manusiawi. Ketika seseorang kehilangan orang yang dikasihinya, atau ketika ia sendiri mulai menyadari keterbatasan hidupnya, pertanyaan tentang kematian menjadi begitu nyata. Di manakah orang percaya berada setelah meninggal? Apakah mereka memasuki Sheol? Hades? Firdaus? Atau menunggu begitu saja sampai kebangkitan terakhir?

 

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berdasarkan spekulasi, melainkan berdasarkan kesaksian Kitab Suci, pengakuan iman gereja, dan pengharapan yang telah dinyatakan dalam Kristus.

 

Kematian Menurut Konfesi GBKP

Konfesi GBKP memberikan dasar yang sangat penting mengenai kematian. Di dalamnya dinyatakan:

-         Kami percaya bahwa kematian merupakan realita kehidupan. Melalui kematian tubuh kembali menjadi tanah dan roh kembali kepada Allah (Pengkhotbah 12:7; Ayub 14:5; Kejadian 3:19). Oleh karena itu, kematian menyadarkan manusia bahwa hidupnya dan kematiannya merupakan sebuah kesatuan.

-         Kami percaya bahwa kematian disebabkan oleh dosa yang telah masuk ke dalam dunia dan menjalar kepada semua orang (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22).

-         Kami percaya bahwa kematian orang beriman tidak memisahkannya dari Yesus Kristus, karena Kristus adalah Tuhan orang yang hidup dan yang mati (Roma 14:9).

 

Perhatikan bahwa Konfesi GBKP tidak memulai pembahasannya dengan pertanyaan "di mana", melainkan dengan pertanyaan "siapa". Fokusnya bukan pertama-tama lokasi, melainkan relasi. Orang percaya tidak dipisahkan dari Kristus oleh kematian.

Inilah dasar utama iman Kristen.

 

Apakah Orang Beriman Pergi ke Sheol atau Hades?

Sering kali muncul anggapan bahwa setelah mati semua orang masuk ke Sheol atau Hades. Sekilas istilah-istilah ini terdengar sama dengan "dunia orang mati", tetapi secara teologis keduanya tidak dapat begitu saja disamakan dengan pemahaman Kristen setelah karya penebusan Kristus.

 

Dalam Perjanjian Lama, Sheol menggambarkan dunia orang mati, tempat semua manusia turun tanpa pembedaan yang jelas antara orang benar dan orang fasik. Konsep ini berkembang dalam konteks pewahyuan yang belum mencapai kepenuhannya.

 

Ketika Perjanjian Baru memakai istilah Hades, maknanya juga mengalami perkembangan. Namun yang sangat penting adalah bahwa Perjanjian Baru tidak berhenti pada Hades. Kristus telah memasuki dunia kematian dan mengalahkannya.

 

Pengakuan Iman Rasuli menyatakan:

"...turun ke dalam kerajaan maut..."

 

Pengakuan ini bukan berarti Kristus menjadi penghuni kerajaan maut, melainkan bahwa Ia benar-benar mengalami kematian manusia seutuhnya dan memasuki wilayah yang menjadi lambang kuasa maut. Namun Ia tidak tinggal di sana. Pada hari ketiga Ia bangkit. Dengan demikian, maut tidak lagi menjadi penguasa terakhir.

 

Karena itu, jika orang Kristen tetap memahami keadaan orang beriman sesudah mati identik dengan Sheol atau Hades sebagaimana konsep sebelum kemenangan Kristus, maka hal itu justru mengabaikan kemenangan Yesus atas maut.

 

Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus:

"Hai maut, di manakah kemenanganmu?" (1 Korintus 15:55)

Maut tidak lagi memiliki kata terakhir.

 

Apakah Firdaus Merupakan Jawaban Terbaik?

Sering kali Lukas 23:43 dijadikan dasar utama untuk menjawab keberadaan orang percaya setelah mati.

 

"Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

 

Sekilas, ayat ini tampak memberikan jawaban sederhana: tempat orang percaya adalah Firdaus. Namun jika kita memperhatikan konteks percakapannya, persoalannya tidak sesederhana itu. Penjahat yang disalibkan di samping Yesus berkata:

 

"Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja."

 

Permintaan penjahat ini mengarah kepada masa depan, kepada kedatangan Kerajaan Mesias pada akhir zaman. Ia membayangkan suatu hari nanti Yesus akan memerintah sebagai Raja. Tetapi Yesus mengubah seluruh perspektif itu.

 

Ia menjawab:

"Hari ini..."

 

Jawaban Yesus memindahkan pengharapan dari masa depan menuju kepastian saat itu juga. Bahkan perkataan tersebut diucapkan ketika mereka berdua masih hidup di atas salib. Karena itu, tekanan utama ucapan Yesus sebenarnya bukanlah pada kata Firdaus, melainkan pada frasa Yunani: μετ μο (met' emou) yang berarti: "bersama Aku." Inilah inti keselamatan.

 

Yang terutama bukanlah Firdaus. Yang terutama ialah bersama Kristus. Pandangan ini justru selaras dengan pengajaran Rasul Paulus. Dalam Filipi 1:23 Paulus berkata: "Aku ingin pergi dan diam bersama Kristus." Menariknya, Paulus sama sekali tidak sedang mendeskripsikan letak geografis sorgawi. Yang menjadi kerinduannya bukan sebuah tempat, melainkan Pribadi.

 

Keselamatan tidak pernah terutama berbicara tentang lokasi. Keselamatan selalu berbicara tentang persekutuan dengan Kristus. Dan inilah yang juga ditekankan oleh Konfesi GBKP ketika menyatakan bahwa kematian tidak memisahkan orang percaya dari Yesus Kristus.

 

Lalu, Di Manakah Orang Beriman Berada?

Pertanyaan berikutnya tentu muncul: Jika demikian, di manakah keberadaan orang beriman setelah kematian? Yesus sendiri memberikan petunjuk yang sangat jelas dalam Yohanes 14:2–3.

 

"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal... Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu... Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."

 

Sering kali perhatian kita hanya tertuju pada kalimat "banyak tempat tinggal". Padahal inti perkataan Yesus terdapat pada bagian penutupnya:

 

"Supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."

Sekali lagi, fokusnya bukan arsitektur sorga. Fokusnya adalah persekutuan dengan Kristus di rumah Bapa. Rumah Bapa bukan sekadar sebuah lokasi kosmis. Dalam Injil Yohanes, "rumah Bapa" menunjuk kepada hadirat Allah sendiri, tempat di mana hubungan antara Allah dan umat-Nya dipulihkan secara sempurna melalui Anak.

 

Ketika Yesus berkata bahwa Ia pergi menyediakan tempat, Ia bukan sedang membangun bangunan-bangunan baru di surga. Melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, Yesus membuka jalan agar manusia dapat masuk ke dalam hadirat Bapa.

 

Karena itu, apabila seorang percaya meninggal, ia berada bersama Kristus di rumah Bapa. Di sanalah ia menikmati persekutuan dengan Tuhan sambil menantikan penggenapan keselamatan pada akhir zaman.

 

Tubuh dan Roh Menunggu Kepenuhannya

Lalu bagaimana keadaan tubuh orang percaya? Pengakuan Iman Rasuli mengajarkan: "Aku percaya kepada kebangkitan daging." Pernyataan ini sangat penting.

 

Iman Kristen tidak mengajarkan bahwa keselamatan hanya menyangkut roh. Keselamatan Allah mencakup manusia secara utuh.

 

Dr. Harun Hadiwijono, dalam bukunya Iman Kristen (hlm. 475–479), menjelaskan bahwa pada saat kematian terjadi pemisahan sementara antara tubuh dan roh. Roh orang percaya berada bersama Kristus, sedangkan tubuh kembali menjadi debu. Namun keadaan tersebut bukanlah keadaan akhir.

 

Pada saat Kristus datang kembali, Allah akan membangkitkan tubuh orang percaya dan mempersatukannya kembali dengan roh dalam kemuliaan. Karena itulah Pengakuan Iman Rasuli tidak berhenti pada kalimat "roh pergi ke sorga", tetapi mengaku: "Aku percaya kepada kebangkitan daging dan hidup yang kekal." Pengharapan Kristen selalu bersifat utuh. Bukan hanya kehidupan roh. Melainkan manusia seutuhnya dipulihkan.

 

Rasul Petrus kemudian menggambarkan tujuan akhir itu: "Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran." (2 Petrus 3:13) Tujuan akhir orang percaya bukan sekadar tinggal selamanya sebagai roh tanpa tubuh. Tujuan akhirnya ialah hidup dalam ciptaan baru Allah, ketika langit yang baru dan bumi yang baru dinyatakan, dan seluruh ciptaan dipulihkan di bawah pemerintahan Kristus.

 

 

 

Penutup

Ketika seseorang bertanya, "Kemanakah orang beriman setelah kematian?", mungkin kita tergoda untuk segera menjawab dengan satu nama tempat: Firdaus, surga, atau istilah lainnya. Namun Kitab Suci justru mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar.

 

Orang beriman tidak terutama menuju sebuah tempat.

Orang beriman menuju Pribadi.

Ia pergi bersama Kristus.

Ia berada di rumah Bapa.

Ia menantikan kebangkitan tubuh.

 

Dan ia berharap kepada langit yang baru dan bumi yang baru, tempat Allah berdiam bersama umat-Nya untuk selama-lamanya. Inilah sebabnya kematian bukan lagi akhir perjalanan orang percaya. Di dalam Yesus Kristus, kematian telah kehilangan kuasanya. Sebab Tuhan yang mengalahkan maut adalah Tuhan yang sama yang berkata:

 

"Supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada."

 

Pengharapan orang percaya bukanlah sekadar mengetahui ke mana ia pergi sesudah mati. Pengharapannya adalah keyakinan bahwa baik hidup maupun mati, ia tetap berada di dalam kasih Kristus yang tidak pernah dapat dipisahkan oleh apa pun.

Komentar