LAHIR KEMBALI – YOHANES 2:1-21 REFRENSI TAMBAHAN PJJ GBKP 09-15 NOVEMBER 2025

 


Masa Advent dalam tradisi Reformed bukan sekadar menghitung hari menuju Natal. Advent adalah masa penantian yang kudus — waktu bagi umat percaya untuk mempersiapkan hati, bukan hanya menantikan kelahiran Kristus di Betlehem, tetapi juga kedatangan-Nya kembali sebagai Raja yang memerintah dengan kebenaran dan damai sejahtera.

Advent menegaskan bahwa terang itu sudah datang ke dunia, namun masih banyak hati yang memilih berjalan dalam kegelapan. Di tengah hiruk pikuk perayaan, lilin, dan lagu-lagu sukacita, Allah memanggil kita untuk tidak sekadar merayakan Natal, tetapi mengalami Natal — yaitu kelahiran baru di dalam Kristus, lahir dari Roh Kudus yang memperbaharui seluruh keberadaan kita.

Dan di sinilah kisah Nikodemus menjadi cermin yang tajam. Ia seorang yang mengerti hukum, fasih berbicara tentang Allah, namun belum sungguh mengenal Allah yang hidup. Sama seperti kita, ia harus belajar bahwa keselamatan bukanlah hasil pengetahuan, tetapi anugerah yang melahirkan kembali hati yang mati.

Lahir Kembali: Karya Rahmat yang Berdaulat

Ketika Yesus berkata kepada Nikodemus,

“Sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:3)

Ia tidak sedang berbicara tentang usaha moral atau perubahan perilaku, melainkan tentang karya ilahi yang melampaui kemampuan manusia. Dalam terang teologi Reformed, manusia yang jatuh dalam dosa tidak hanya lemah, tetapi mati secara rohani. Dosa telah merusak total seluruh keberadaan manusia — pikiran, perasaan, dan kehendaknya.

Oleh sebab itu, “lahir kembali” bukanlah hasil keputusan atau kesadaran manusia, melainkan inisiatif Allah yang berdaulat (unconditional election). Dialah yang memilih, memanggil, dan membangkitkan kehidupan baru di dalam kita.

John Calvin menyebut regeneratio sebagai “ciptaan baru dari Allah, di mana kehendak manusia yang beku dilembutkan dan diarahkan kepada ketaatan.”
Inilah anugerah yang tidak dapat ditolak (irresistible grace): ketika Roh Kudus bertiup, Ia pasti membawa kehidupan.

Tidak ada yang dapat menghalangi karya Roh itu. Sebagaimana angin berhembus ke mana ia mau, demikian pula kelahiran baru terjadi dalam misteri kasih karunia Allah yang menembus segala batas rasio dan agama.

Advent dan Lahir Baru: Dua Kelahiran yang Saling Menyapa

Advent sesungguhnya mengingatkan kita pada dua kelahiran yang tidak dapat dipisahkan:

1.      Kelahiran Kristus di Betlehem — karya Allah yang turun ke dunia, menebus umat-Nya dari dosa dan kematian.

2.      Kelahiran kita kembali di dalam Kristus — karya Allah yang masuk ke hati manusia, memperbaharui hidup dan membangkitkan iman.

Yang pertama adalah peristiwa historis; yang kedua adalah peristiwa rohani.
Keduanya dimulai oleh Allah, bukan oleh manusia.

Natal sejati tidak berawal dari gemerlap lampu, melainkan dari hati yang dibangunkan oleh Roh Kudus. Di sinilah makna terdalam Advent bagi orang Reformed: menantikan Allah yang bertindak, bukan manusia yang berinisiatif mengatur keselamatan.

Advent menjadi saat untuk menyadari bahwa karya Allah tidak berhenti di palungan, tetapi terus berlanjut dalam hati kita.

Seperti Nikodemus yang datang dalam gelap dan pulang dengan terang, demikian pula setiap orang yang disentuh rahmat Allah akan mengalami kelahiran baru — keluar dari kegelapan menuju hidup yang diperbaharui oleh kasih Kristus.

Perenungan Keluarga: Menyambut Sang Terang

Masa Advent adalah undangan untuk menata ulang arah hidup keluarga kita di bawah terang Kristus.

Mari kita bertanya dengan jujur di hadapan Tuhan:

·        Apakah keluarga kita sungguh hidup dalam terang Kristus, ataukah masih berlindung di balik kesalehan semu dan rutinitas rohani tanpa pertobatan sejati?

·        Apakah Roh Kudus sungguh diberi ruang untuk mengubah cara kita mengasihi, memaafkan, dan saling melayani di rumah?

·        Apakah kita sungguh rindu bukan hanya merayakan kelahiran Kristus, tetapi mengalami kelahiran baru di dalam Dia?

Keluarga yang lahir baru bukanlah keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang terus diperbaharui oleh rahmat. Mereka mungkin jatuh, namun tidak menyerah; mereka mungkin menangis, tetapi tetap berharap; sebab kasih Kristus menjadi pusat dari segala hal.

Di situlah Natal menjadi nyata: bukan karena hiasan yang indah atau nyanyian yang merdu, melainkan karena Kristus sungguh hidup di tengah rumah tangga kita.

Penutup: Doa Penantian

Masa Advent mengajarkan bahwa penantian sejati bukanlah diam pasif, melainkan hidup dalam pengharapan yang diperbaharui oleh Roh Kudus.

Seperti lilin-lilin Advent yang menyala sedikit demi sedikit, demikian pula Allah menyalakan terang iman dalam hati kita — sampai seluruh hidup kita bersinar oleh kasih Kristus.

“Yang lahir dari daging adalah daging, tetapi yang lahir dari Roh adalah roh.” (Yohanes 3:6)

Kiranya Tuhan yang sama yang lahir di Betlehem juga melahirkan kita kembali hari ini — bukan dengan emosi sesaat, tetapi dengan iman yang dibangkitkan oleh kasih karunia yang berdaulat.

Kiranya setiap penantian kita dipenuhi oleh harapan yang hidup, dan setiap keluarga kita menjadi saksi dari terang yang tidak pernah padam.

Komentar