Masa Advent dalam
tradisi Reformed bukan sekadar menghitung hari menuju Natal. Advent adalah masa
penantian yang kudus — waktu bagi umat percaya untuk mempersiapkan hati, bukan
hanya menantikan kelahiran Kristus di Betlehem, tetapi juga kedatangan-Nya kembali
sebagai Raja yang memerintah dengan kebenaran dan damai sejahtera.
Advent menegaskan bahwa
terang itu sudah datang ke dunia, namun masih banyak hati yang memilih berjalan
dalam kegelapan. Di tengah hiruk pikuk perayaan, lilin, dan lagu-lagu sukacita,
Allah memanggil kita untuk tidak sekadar merayakan Natal, tetapi mengalami
Natal — yaitu kelahiran baru di dalam Kristus, lahir dari Roh Kudus yang
memperbaharui seluruh keberadaan kita.
Dan di sinilah kisah
Nikodemus menjadi cermin yang tajam. Ia seorang yang mengerti hukum, fasih
berbicara tentang Allah, namun belum sungguh mengenal Allah yang hidup.
Sama seperti kita, ia harus belajar bahwa keselamatan bukanlah hasil
pengetahuan, tetapi anugerah yang melahirkan kembali hati yang mati.
Lahir Kembali: Karya
Rahmat yang Berdaulat
Ketika Yesus berkata
kepada Nikodemus,
“Sesungguhnya, jika
seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
(Yohanes 3:3)
Ia tidak sedang
berbicara tentang usaha moral atau perubahan perilaku, melainkan tentang karya
ilahi yang melampaui kemampuan manusia. Dalam terang teologi Reformed, manusia
yang jatuh dalam dosa tidak hanya lemah, tetapi mati secara rohani. Dosa telah
merusak total seluruh keberadaan manusia — pikiran, perasaan, dan kehendaknya.
Oleh sebab itu, “lahir
kembali” bukanlah hasil keputusan atau kesadaran manusia, melainkan inisiatif
Allah yang berdaulat (unconditional election). Dialah yang memilih, memanggil,
dan membangkitkan kehidupan baru di dalam kita.
John Calvin menyebut regeneratio
sebagai “ciptaan baru dari Allah, di mana kehendak manusia yang beku
dilembutkan dan diarahkan kepada ketaatan.”
Inilah anugerah yang tidak dapat ditolak (irresistible grace): ketika
Roh Kudus bertiup, Ia pasti membawa kehidupan.
Tidak ada yang dapat
menghalangi karya Roh itu. Sebagaimana angin berhembus ke mana ia mau, demikian
pula kelahiran baru terjadi dalam misteri kasih karunia Allah yang menembus
segala batas rasio dan agama.
Advent dan Lahir Baru:
Dua Kelahiran yang Saling Menyapa
Advent sesungguhnya
mengingatkan kita pada dua kelahiran yang tidak dapat dipisahkan:
1. Kelahiran
Kristus di Betlehem — karya Allah yang turun ke dunia,
menebus umat-Nya dari dosa dan kematian.
2. Kelahiran
kita kembali di dalam Kristus — karya Allah yang
masuk ke hati manusia, memperbaharui hidup dan membangkitkan iman.
Yang pertama adalah
peristiwa historis; yang kedua adalah peristiwa rohani.
Keduanya dimulai oleh Allah, bukan oleh manusia.
Natal sejati tidak
berawal dari gemerlap lampu, melainkan dari hati yang dibangunkan oleh Roh
Kudus. Di sinilah makna terdalam Advent bagi orang Reformed: menantikan Allah
yang bertindak, bukan manusia yang berinisiatif mengatur keselamatan.
Advent menjadi saat
untuk menyadari bahwa karya Allah tidak berhenti di palungan, tetapi terus
berlanjut dalam hati kita.
Seperti Nikodemus yang
datang dalam gelap dan pulang dengan terang, demikian pula setiap orang yang
disentuh rahmat Allah akan mengalami kelahiran baru — keluar dari kegelapan
menuju hidup yang diperbaharui oleh kasih Kristus.
Perenungan Keluarga:
Menyambut Sang Terang
Masa Advent adalah
undangan untuk menata ulang arah hidup keluarga kita di bawah terang Kristus.
Mari kita bertanya
dengan jujur di hadapan Tuhan:
·
Apakah keluarga kita sungguh hidup dalam
terang Kristus, ataukah masih berlindung di balik kesalehan semu dan rutinitas
rohani tanpa pertobatan sejati?
·
Apakah Roh Kudus sungguh diberi ruang
untuk mengubah cara kita mengasihi, memaafkan, dan saling melayani di rumah?
·
Apakah kita sungguh rindu bukan hanya merayakan
kelahiran Kristus, tetapi mengalami kelahiran baru di dalam Dia?
Keluarga yang lahir
baru bukanlah keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang terus diperbaharui
oleh rahmat. Mereka mungkin jatuh, namun tidak menyerah; mereka mungkin
menangis, tetapi tetap berharap; sebab kasih Kristus menjadi pusat dari segala
hal.
Di situlah Natal
menjadi nyata: bukan karena hiasan yang indah atau nyanyian yang merdu,
melainkan karena Kristus sungguh hidup di tengah rumah tangga kita.
Penutup: Doa Penantian
Masa Advent mengajarkan
bahwa penantian sejati bukanlah diam pasif, melainkan hidup dalam pengharapan
yang diperbaharui oleh Roh Kudus.
Seperti lilin-lilin
Advent yang menyala sedikit demi sedikit, demikian pula Allah menyalakan terang
iman dalam hati kita — sampai seluruh hidup kita bersinar oleh kasih Kristus.
“Yang lahir dari daging
adalah daging, tetapi yang lahir dari Roh adalah roh.” (Yohanes 3:6)
Kiranya Tuhan yang sama
yang lahir di Betlehem juga melahirkan kita kembali hari ini — bukan dengan
emosi sesaat, tetapi dengan iman yang dibangkitkan oleh kasih karunia yang
berdaulat.
Kiranya setiap
penantian kita dipenuhi oleh harapan yang hidup, dan setiap keluarga kita
menjadi saksi dari terang yang tidak pernah padam.

Komentar
Posting Komentar