FOKUS GBP GBKP 2026 RELASI DENGAN TUHAN (NANDAI DIBATA)

 

Pendahuluan

Berelasi dengan Tuhan tidak dapat direduksi pada indikator-indikator lahiriah seperti kecakapan teologis, kerajinan beribadah, atau kesalehan yang terukur secara administratif. Relasi dengan Tuhan adalah perjalanan iman yang hidup, yang menyentuh keseluruhan eksistensi manusia—pikiran, perasaan, tubuh, relasi sosial, dan pengharapan di tengah penderitaan.

Tuhan yang diimani dalam tradisi GBKP adalah Tuhan yang hadir dan menyertai, bukan Tuhan yang jauh dan abstrak. Ia hadir dalam peristiwa besar maupun keseharian yang sederhana; dalam sukacita maupun luka; dalam ibadah gerejawi maupun realitas sosial umat. Seperti Yesus yang berjalan bersama dua murid ke Emaus, Tuhan sering hadir lebih dekat daripada yang kita sadari, meski keterbatasan manusia membuat kehadiran itu tidak selalu langsung dikenali.

Karena itu, relasi dengan Tuhan menuntut keterbukaan untuk dibentuk—kesediaan untuk mengalami, menyadari, dan mengenal Tuhan dalam seluruh dinamika kehidupan.

Keunikan Jalan Spiritualitas Manusia

Dalam berelasi dengan Tuhan, setiap manusia memiliki jalan yang unik. Dale Cannon menjelaskan bahwa terdapat enam jalan spiritualitas yang menunjukkan bagaimana manusia mengalami dan merespons Tuhan secara berbeda-beda. Keenam jalan ini dapat dipahami dalam tiga tema besar tentang pribadi Tuhan yang dirasakan, disadari, dan dikenal dalam pengalaman iman sehari-hari.

1. Tuhan yang Dirasakan

Berelasi dengan Tuhan melibatkan dimensi perasaan—keyakinan akan kehadiran Tuhan dalam keseharian. Di tengah pergumulan hidup yang sering membuat Tuhan terasa jauh, justru ada orang-orang yang paling merasakan kehadiran Tuhan di dalam penderitaan dan kegelapan.

Jalan spiritualitas ini mencakup:

  • Doa dan ibadah (devotion)
  • Pengalaman pribadi dan mistik
  • Meditasi

Ketiga jalan ini menegaskan bahwa Tuhan adalah pribadi yang dapat dirasakan kehadiran-Nya, bukan hanya dipikirkan. Relasi dengan Tuhan di sini melibatkan ranah afektif: kepekaan hati, keheningan, air mata, dan pengharapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.

2. Tuhan yang Disadari

Selain melalui perasaan, relasi dengan Tuhan juga tumbuh melalui kesadaran dan pemahaman iman. Di sini, orang beriman “mengalami” Tuhan melalui pergulatan akal budi dan refleksi hidup.

Jalan spiritualitas ini meliputi:

  • Ilmu pengetahuan (reasoned inquiry)
  • Perbuatan baik (right action)

Mereka yang menempuh jalan ini membutuhkan pendalaman Alkitab secara komprehensif dan kontekstual—dengan memperhatikan latar belakang penulisan, tokoh-tokoh Alkitab, sejarah keselamatan, serta dinamika sosial yang melingkupinya. Studi Alkitab bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan sarana untuk menyadari karya Allah dalam sejarah dan kehidupan nyata.

Melalui pemahaman iman yang reflektif, relasi dengan Tuhan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mendorong tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan keadilan Allah dalam kehidupan bersama.

3. Tuhan yang Dikenal

Relasi dengan Tuhan juga diperdalam melalui ritus-ritus religius. Jalan spiritualitas keenam adalah ibadah yang benar (sacred rites)—jalan bagi mereka yang menghayati iman melalui tata ibadah, kalender gerejawi, sakramen, simbol-simbol iman, serta ritme kehidupan manusia (lahir, dibaptis, menikah, dan mati).

Bagi kelompok ini, ritus-ritus iman perlu:

  • Diingat (anamnesis)
  • Ditiru dan dihidupi (mimesis)

Ritus dan simbol bukan sekadar tradisi, melainkan sarana pedagogis dan spiritual yang menolong umat mengenal Tuhan secara mendalam. Persekutuan, sakramen, dan simbol iman menjadi penguatan relasi dengan Tuhan dalam keseharian.

IMPLIKASI DAN BENANG MERAH DENGAN PEKAN PENATALAYANAN GBKP 2026

1. Relasi dengan Tuhan Membentuk Spiritualitas yang Utuh

  • Gereja dipanggil untuk menghargai keragaman jalan spiritualitas jemaat tanpa menyeragamkan pengalaman iman.
  • Pembinaan iman perlu membuka ruang bagi dimensi afektif (perasaan), kognitif (pemahaman), dan praksis (tindakan).
  • Relasi dengan Tuhan tidak dipaksakan dalam satu bentuk kesalehan, tetapi dipelihara melalui latihan iman yang kontekstual.

2. Relasi dengan Tuhan Menumbuhkan Iman yang Taat dan Berjalan

  • Seperti Abraham, iman tidak selalu berjalan dalam kepastian, tetapi dalam kepercayaan kepada Allah yang setia.
  • Relasi dengan Tuhan membentuk ketaatan yang berani melangkah maupun setia bertahan.
  • Gereja dipanggil membina umat agar mampu hidup oleh iman, bukan semata-mata oleh rasa aman struktural.

3. Relasi dengan Tuhan Menguatkan Keyakinan Akan Penyertaan Allah

  • Penyertaan Tuhan dipahami bukan sebagai jaminan hidup tanpa masalah, melainkan kehadiran Allah dalam setiap musim hidup.
  • Jemaat dibentuk untuk memiliki iman yang tangguh di tengah penderitaan, pencobaan, dan ketidakpastian.
  • Spiritualitas penyertaan menolong umat tetap berharap tanpa menyangkal realitas luka.

4. Relasi dengan Tuhan Menggerakkan Pembebasan dan Solidaritas

  • Allah yang dikenal adalah Allah yang bertindak membebaskan.
  • Gereja dipanggil untuk peka terhadap penderitaan sosial sebagai bagian dari pengenalan akan Allah.
  • Tindakan kasih dan keadilan bukan tambahan iman, melainkan buah relasi dengan Tuhan yang hidup.

5. Relasi dengan Tuhan Membentuk Kehidupan yang Memberi Hormat kepada Allah

  • Pengenalan akan Allah selalu berbuah etis: hidup dalam kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
  • Pemilihan dan anugerah Allah tidak berhenti pada identitas, tetapi mengikat umat pada panggilan hidup yang nyata.
  • Hormat kepada Tuhan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam ruang ibadah.

6. Relasi dengan Tuhan Menumbuhkan Persekutuan yang Bersatu

  • Kesatuan jemaat lahir dari kepercayaan bahwa Allah bekerja juga melalui orang lain yang berbeda.
  • Firman menjadi dasar pembentukan karakter bersama, bukan alat dominasi.
  • Persekutuan sejati selalu berbuah solidaritas konkret dan keberanian berbagi beban.

7. Relasi dengan Tuhan Melahirkan Kehidupan yang Saling Mengasihi

  • Kasih menjadi tanda paling nyata dari pengenalan akan Allah.
  • Iman diuji bukan terutama pada ketepatan kata, tetapi pada keberanian mengasihi secara nyata.
  • Gereja dipanggil menjadi ruang aman tempat kasih Allah dialami, dipraktikkan, dan disaksikan.

Penutup

Relasi dengan Tuhan (Nandai Dibata) bukanlah capaian rohani yang selesai, melainkan perjalanan iman seumur hidup. Dalam perjalanan itu, umat belajar merasakan kehadiran Tuhan, menyadari karya-Nya, dan mengenal-Nya secara semakin mendalam melalui Firman, persekutuan, penderitaan, dan kasih yang diwujudkan.

Fokus GBP GBKP 2026 mengajak gereja untuk kembali ke inti iman: hidup di hadapan Allah yang hadir dan bekerja. Dari relasi itulah lahir iman yang taat, pengharapan yang teguh, persekutuan yang bersatu, dan kehidupan yang saling mengasihi.

Dengan demikian, relasi dengan Tuhan tidak berhenti sebagai wacana rohani, tetapi menjadi daya yang membentuk gereja dan umat untuk hidup setia, adil, dan penuh kasih—bagi kemuliaan Tuhan dan kesaksian Injil di tengah dunia.

Komentar