Pendahuluan
Berelasi dengan Tuhan
tidak dapat direduksi pada indikator-indikator lahiriah seperti kecakapan
teologis, kerajinan beribadah, atau kesalehan yang terukur secara
administratif. Relasi dengan Tuhan adalah perjalanan iman yang hidup,
yang menyentuh keseluruhan eksistensi manusia—pikiran, perasaan, tubuh, relasi
sosial, dan pengharapan di tengah penderitaan.
Tuhan yang diimani
dalam tradisi GBKP adalah Tuhan yang hadir dan menyertai, bukan Tuhan
yang jauh dan abstrak. Ia hadir dalam peristiwa besar maupun keseharian yang
sederhana; dalam sukacita maupun luka; dalam ibadah gerejawi maupun realitas
sosial umat. Seperti Yesus yang berjalan bersama dua murid ke Emaus, Tuhan
sering hadir lebih dekat daripada yang kita sadari, meski keterbatasan manusia
membuat kehadiran itu tidak selalu langsung dikenali.
Karena itu, relasi
dengan Tuhan menuntut keterbukaan untuk dibentuk—kesediaan untuk mengalami,
menyadari, dan mengenal Tuhan dalam seluruh dinamika kehidupan.
Keunikan Jalan
Spiritualitas Manusia
Dalam berelasi dengan
Tuhan, setiap manusia memiliki jalan yang unik. Dale Cannon menjelaskan bahwa
terdapat enam jalan spiritualitas yang menunjukkan bagaimana manusia
mengalami dan merespons Tuhan secara berbeda-beda. Keenam jalan ini dapat
dipahami dalam tiga tema besar tentang pribadi Tuhan yang dirasakan,
disadari, dan dikenal dalam pengalaman iman sehari-hari.
1. Tuhan yang Dirasakan
Berelasi dengan Tuhan
melibatkan dimensi perasaan—keyakinan akan kehadiran Tuhan dalam keseharian. Di
tengah pergumulan hidup yang sering membuat Tuhan terasa jauh, justru ada
orang-orang yang paling merasakan kehadiran Tuhan di dalam penderitaan dan kegelapan.
Jalan spiritualitas ini
mencakup:
- Doa dan ibadah (devotion)
- Pengalaman pribadi dan mistik
- Meditasi
Ketiga jalan ini
menegaskan bahwa Tuhan adalah pribadi yang dapat dirasakan kehadiran-Nya,
bukan hanya dipikirkan. Relasi dengan Tuhan di sini melibatkan ranah afektif:
kepekaan hati, keheningan, air mata, dan pengharapan yang tumbuh di tengah
keterbatasan.
2. Tuhan yang Disadari
Selain melalui
perasaan, relasi dengan Tuhan juga tumbuh melalui kesadaran dan pemahaman
iman. Di sini, orang beriman “mengalami” Tuhan melalui pergulatan akal budi
dan refleksi hidup.
Jalan spiritualitas ini
meliputi:
- Ilmu pengetahuan (reasoned inquiry)
- Perbuatan baik (right action)
Mereka yang menempuh
jalan ini membutuhkan pendalaman Alkitab secara komprehensif dan kontekstual—dengan
memperhatikan latar belakang penulisan, tokoh-tokoh Alkitab, sejarah
keselamatan, serta dinamika sosial yang melingkupinya. Studi Alkitab bukan
sekadar menambah pengetahuan, melainkan sarana untuk menyadari karya Allah
dalam sejarah dan kehidupan nyata.
Melalui pemahaman iman
yang reflektif, relasi dengan Tuhan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi
mendorong tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan keadilan Allah dalam
kehidupan bersama.
3. Tuhan yang Dikenal
Relasi dengan Tuhan
juga diperdalam melalui ritus-ritus religius. Jalan spiritualitas keenam
adalah ibadah yang benar (sacred rites)—jalan bagi mereka yang
menghayati iman melalui tata ibadah, kalender gerejawi, sakramen, simbol-simbol
iman, serta ritme kehidupan manusia (lahir, dibaptis, menikah, dan mati).
Bagi kelompok ini,
ritus-ritus iman perlu:
- Diingat (anamnesis)
- Ditiru dan dihidupi (mimesis)
Ritus dan simbol bukan
sekadar tradisi, melainkan sarana pedagogis dan spiritual yang menolong umat
mengenal Tuhan secara mendalam. Persekutuan, sakramen, dan simbol iman menjadi
penguatan relasi dengan Tuhan dalam keseharian.
IMPLIKASI DAN BENANG
MERAH DENGAN PEKAN PENATALAYANAN GBKP 2026
1. Relasi dengan Tuhan
Membentuk Spiritualitas yang Utuh
- Gereja dipanggil untuk menghargai
keragaman jalan spiritualitas jemaat tanpa menyeragamkan pengalaman iman.
- Pembinaan iman perlu membuka ruang
bagi dimensi afektif (perasaan), kognitif (pemahaman), dan praksis
(tindakan).
- Relasi dengan Tuhan tidak
dipaksakan dalam satu bentuk kesalehan, tetapi dipelihara melalui latihan
iman yang kontekstual.
2. Relasi dengan Tuhan
Menumbuhkan Iman yang Taat dan Berjalan
- Seperti Abraham, iman tidak selalu
berjalan dalam kepastian, tetapi dalam kepercayaan kepada Allah yang
setia.
- Relasi dengan Tuhan membentuk
ketaatan yang berani melangkah maupun setia bertahan.
- Gereja dipanggil membina umat agar
mampu hidup oleh iman, bukan semata-mata oleh rasa aman struktural.
3. Relasi dengan Tuhan
Menguatkan Keyakinan Akan Penyertaan Allah
- Penyertaan Tuhan dipahami bukan
sebagai jaminan hidup tanpa masalah, melainkan kehadiran Allah dalam
setiap musim hidup.
- Jemaat dibentuk untuk memiliki iman
yang tangguh di tengah penderitaan, pencobaan, dan ketidakpastian.
- Spiritualitas penyertaan menolong
umat tetap berharap tanpa menyangkal realitas luka.
4. Relasi dengan Tuhan
Menggerakkan Pembebasan dan Solidaritas
- Allah yang dikenal adalah Allah
yang bertindak membebaskan.
- Gereja dipanggil untuk peka
terhadap penderitaan sosial sebagai bagian dari pengenalan akan Allah.
- Tindakan kasih dan keadilan bukan
tambahan iman, melainkan buah relasi dengan Tuhan yang hidup.
5. Relasi dengan Tuhan
Membentuk Kehidupan yang Memberi Hormat kepada Allah
- Pengenalan akan Allah selalu
berbuah etis: hidup dalam kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
- Pemilihan dan anugerah Allah tidak
berhenti pada identitas, tetapi mengikat umat pada panggilan hidup yang
nyata.
- Hormat kepada Tuhan diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam ruang ibadah.
6. Relasi dengan Tuhan
Menumbuhkan Persekutuan yang Bersatu
- Kesatuan jemaat lahir dari
kepercayaan bahwa Allah bekerja juga melalui orang lain yang berbeda.
- Firman menjadi dasar pembentukan
karakter bersama, bukan alat dominasi.
- Persekutuan sejati selalu berbuah
solidaritas konkret dan keberanian berbagi beban.
7. Relasi dengan Tuhan
Melahirkan Kehidupan yang Saling Mengasihi
- Kasih menjadi tanda paling nyata
dari pengenalan akan Allah.
- Iman diuji bukan terutama pada
ketepatan kata, tetapi pada keberanian mengasihi secara nyata.
- Gereja dipanggil menjadi ruang aman
tempat kasih Allah dialami, dipraktikkan, dan disaksikan.
Penutup
Relasi dengan Tuhan
(Nandai Dibata) bukanlah capaian rohani yang selesai, melainkan perjalanan
iman seumur hidup. Dalam perjalanan itu, umat belajar merasakan kehadiran
Tuhan, menyadari karya-Nya, dan mengenal-Nya secara semakin mendalam melalui
Firman, persekutuan, penderitaan, dan kasih yang diwujudkan.
Fokus GBP GBKP 2026
mengajak gereja untuk kembali ke inti iman: hidup di hadapan Allah yang
hadir dan bekerja. Dari relasi itulah lahir iman yang taat, pengharapan
yang teguh, persekutuan yang bersatu, dan kehidupan yang saling mengasihi.
Dengan demikian, relasi
dengan Tuhan tidak berhenti sebagai wacana rohani, tetapi menjadi daya yang
membentuk gereja dan umat untuk hidup setia, adil, dan penuh kasih—bagi
kemuliaan Tuhan dan kesaksian Injil di tengah dunia.
Komentar
Posting Komentar