Hidup Memberi Hormat Pada Tuhan Pekan Penatalayanan Hari Kelima – Kejadian 18:17-19 Vic Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM

 

Dalam tradisi Reformed, khususnya menurut Yohanes Calvin, satu hal ditegaskan dengan kuat: Allah dapat dikenal, tetapi hanya sejauh Ia berkenan menyatakan diri-Nya. Manusia tidak mengenal Allah melalui spekulasi moral atau pengalaman religius belaka, melainkan melalui pewahyuan-Nya di dalam sejarah, firman, dan tindakan-Nya. Dari sinilah kehidupan yang memberi hormat kepada Tuhan memperoleh fondasinya—bukan dari inisiatif manusia, tetapi dari Allah yang lebih dahulu membuka diri-Nya.

Kejadian 18:17–19 berdiri tepat di pusat pengakuan iman ini.

Allah yang Dikenal Karena Ia Menyatakan Diri

“Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan?” Pertanyaan ini bukanlah ekspresi kebimbangan ilahi, melainkan penegasan kehendak Allah untuk menyatakan diri-Nya secara relasional dan historis. Dalam kerangka Calvinis, ini sejalan dengan keyakinan bahwa Allah bukan Deus absconditus yang tak tersentuh, melainkan Allah yang berkenan dikenal melalui kehendak-Nya yang dinyatakan.

Calvin menegaskan bahwa pengenalan akan Allah selalu bersifat praktis dan etis, bukan spekulatif. Kita mengenal Allah bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi supaya hidup diarahkan oleh kehendak-Nya. Karena itu, ketika Allah menyatakan rencana-Nya kepada Abraham, Ia sekaligus menyingkapkan siapa Allah itu: Allah yang adil, benar, dan setia pada janji-Nya.

Maka, hidup memberi hormat kepada Tuhan bukanlah usaha manusia untuk “mencapai” Allah, melainkan respons ketaatan terhadap Allah yang telah memperkenalkan diri-Nya.


Pemilihan dan Pengenalan: Anugerah yang Mengikat Etika

Ayat 19 menegaskan bahwa pemilihan Abraham bersumber sepenuhnya dari kedaulatan Allah: “Sebab Aku telah memilih dia.” Dalam doktrin Reformed, pemilihan selalu mendahului ketaatan, bukan sebaliknya. Namun pemilihan ini tidak pernah berhenti pada status, melainkan menghasilkan panggilan hidup.

Abraham dipilih supaya ia dan keturunannya hidup menurut jalan Tuhan—yakni kebenaran dan keadilan. Di sini terlihat dengan jelas bahwa dalam teologi Calvinis, pengenalan Allah (cognitio Dei) tidak pernah terpisah dari ketaatan hidup (obedientia). Iman yang sejati selalu menampakkan diri dalam praktik konkret.

Teologi pembebasan, ketika dibaca secara kritis dalam kerangka Reformed, dapat dipahami sebagai konsekuensi etis dari pengenalan Allah, bukan sebagai fondasi epistemologis iman. Gereja tidak memperjuangkan keadilan agar mengenal Allah, melainkan memperjuangkan keadilan karena Allah telah dikenal melalui Firman-Nya.

Allah yang Dikenal dalam Kehidupan Sehari-hari

Yohanes 2:1–12 menyingkapkan pola pewahyuan yang serupa. Yesus menyatakan kemuliaan-Nya bukan melalui argumentasi teologis, tetapi melalui tindakan yang nyata—mengubah air menjadi anggur. Dalam bahasa Yohanes, ini disebut tanda, karena peristiwa itu menyatakan identitas Kristus bagi mereka yang melihat dengan iman.

Dalam kerangka Calvinis, tanda ini bukan sentimentalitas ilahi, melainkan pewahyuan objektif tentang siapa Yesus: Dia adalah penggenap hukum, sumber sukacita sejati, dan Tuhan atas kehidupan manusia. Allah dikenal bukan melalui emosi pesta, tetapi melalui makna teologis dari tindakan Kristus itu sendiri.

Teologi pembebasan membantu menajamkan implikasinya: Allah yang dikenal dalam Kristus adalah Allah yang peduli pada martabat manusia. Namun kepedulian ini tidak berdiri di atas sentimen sosial, melainkan di atas identitas Kristus sebagai Tuhan yang berdaulat atas ciptaan dan sejarah.

Hukum Kristus dan Pengenalan Allah dalam Komunitas

Galatia 6:2—“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu”—memberi bentuk komunal dari pengenalan Allah. Calvin menekankan bahwa Allah dikenal bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam kehidupan gereja sebagai tubuh Kristus.

Menanggung beban sesama bukan sarana memperoleh keselamatan, melainkan buah dari iman yang telah dibenarkan. Dalam hal ini, solidaritas yang ditekankan oleh teologi pembebasan menemukan tempatnya yang tepat: bukan sebagai ideologi, tetapi sebagai ekspresi hidup dari hukum Kristus yang mengalir dari pengenalan akan Allah.

Gereja yang tidak memikul beban sesama pada akhirnya menunjukkan bukan kekurangan aktivisme, melainkan kekurangan pengenalan akan Allah.

Hormat kepada Tuhan sebagai Buah Pengenalan yang Benar

Jika Kejadian 18, Yohanes 2, dan Galatia 6 dibaca bersama dalam terang doktrin Calvinis tentang knowability of God, maka menjadi jelas bahwa:

  • Allah dikenal karena Ia menyatakan diri-Nya.
  • Pengenalan akan Allah melahirkan ketaatan etis.
  • Keadilan dan solidaritas bukan dasar iman, melainkan buah iman.
  • Pembebasan sejati bersumber dari Allah yang berdaulat, bukan dari kehendak manusia.

Hidup memberi hormat kepada Tuhan berarti hidup selaras dengan Allah yang telah kita kenal—bukan Allah ciptaan ideologi, tetapi Allah yang menyatakan diri-Nya dalam Firman dan sejarah keselamatan. Di sanalah iman menjadi nyata: ketika pengenalan akan Allah berbuah dalam kehidupan yang benar, adil, dan setia, bagi kemuliaan-Nya saja (soli Deo gloria).

Komentar