Kehidupan yang Saling Mengasihi Pekan Penatalayanan Hari Ketujuh – 1 Yoh 3:11-18 Vic Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM

 Ada iman yang fasih berbicara tentang Allah, namun gugup ketika harus tinggal lama di hadapan sesama. Ia mampu menyebut nama Allah dengan benar, tetapi canggung ketika harus memikul beban orang lain. Surat 1 Yohanes ditulis di tengah ketegangan seperti itu: jemaat yang mengaku hidup dalam terang, namun relasi mereka pecah; jemaat yang berbicara tentang kebenaran, namun kehilangan kehangatan kasih.

Karena itu Yohanes tidak memulai dengan perdebatan doktrinal, melainkan dengan sesuatu yang paling mendasar: “Inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi” (1Yoh. 3:11). Ia seakan menarik jemaat kembali ke titik nol iman. Jika iman harus diuji, ujian itu bukan pertama-tama pada ketepatan rumusan, tetapi pada apakah kasih masih hidup di antara mereka.

Kasih, bagi Yohanes, bukanlah tambahan moral bagi orang beriman. Kasih adalah tanda epistemologis—tanda apakah seseorang sungguh mengenal Allah atau tidak. Di sinilah pemahaman Reformed tentang knowability of God menemukan bentuknya yang paling konkret. Allah memang tidak dapat dipahami secara tuntas oleh rasio manusia, namun Ia sungguh dapat dikenal karena Ia berkenan menyatakan diri. Dan penyataan itu bukan berhenti pada informasi tentang Allah, melainkan mengubah arah hidup manusia. Allah yang dikenal adalah Allah yang membentuk relasi, bukan sekadar isi pikiran.

Itulah sebabnya Yohanes menghadirkan Kain. Kain bukan sekadar tokoh tragis dalam sejarah awal manusia, melainkan simbol manusia yang menolak terang karena terang itu menyingkapkan dirinya sendiri. Kain tahu bahwa persembahan Habel berkenan, dan justru di situlah masalahnya. Ia tidak sanggup hidup di hadapan kebenaran yang mengoreksi dirinya. Maka kebencian menjadi jalan keluar. Kebencian selalu lebih mudah daripada pertobatan.

Dalam logika ini, kebencian bukan sekadar emosi negatif, melainkan sikap eksistensial terhadap realitas. Ia adalah bentuk penolakan terhadap Allah yang menyatakan diri dalam kebenaran dan keadilan. Karena itu Yohanes mengatakan bahwa Kain “berasal dari si jahat” (ay. 12)—bukan sebagai stempel metafisik, melainkan sebagai penyingkapan arah hidup. Hidup yang menolak terang akan selalu berujung pada perusakan relasi.

Maka Yohanes tidak menghibur jemaat dengan janji kenyamanan: “Janganlah kamu heran, apabila dunia membenci kamu” (ay. 13). Dunia, dalam pengertian Yohanes, adalah sistem hidup yang dibangun tanpa Allah—atau lebih tepat, yang menolak Allah yang menyatakan diri. Kasih yang sejati selalu mengganggu sistem semacam itu. Ia membuka mata, membongkar kepalsuan, dan menyingkap ketidakadilan yang selama ini dinormalisasi.

Di titik ini, iman berjumpa dengan kesadaran kritis. Dunia yang membenci bukan sekadar dunia yang “jahat”, melainkan dunia yang takut kehilangan kuasa. Kasih tidak tunduk pada relasi dominasi; ia menolak menjadikan manusia sebagai objek. Dalam terang ini, kasih selalu bersifat membebaskan—bukan karena ia revolusioner dalam slogan, tetapi karena ia mengembalikan manusia pada martabatnya.

“Kita tahu,” kata Yohanes, “bahwa kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita” (ay. 14). Perpindahan ini bukan metafora religius belaka. Ia adalah perubahan orientasi hidup. Dari hidup yang tertutup pada diri sendiri, menuju hidup yang terbuka pada yang lain. Dari hidup yang digerakkan oleh ketakutan kehilangan, menuju hidup yang berani memberi.

Kasih menjadi tanda bahwa seseorang telah keluar dari lingkaran maut—lingkaran yang membuat manusia terus-menerus bersaing, membandingkan, dan mencurigai. Di sini Yohanes menyentuh lapisan terdalam kemanusiaan: manusia yang tidak mampu mengasihi sesamanya sesungguhnya sedang terpenjara, bahkan ketika ia tampak bebas.

Karena itu Yohanes berbicara sangat keras: “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh” (ay. 15). Ini bukan bahasa hiperbolis yang berlebihan, melainkan penyingkapan kebenaran yang tidak nyaman. Kebencian membunuh bukan selalu secara fisik, tetapi secara relasional. Ia mematikan dialog, mematikan empati, dan akhirnya mematikan kemungkinan hidup bersama.

Dalam terang knowability of God, pernyataan ini menjadi sangat tajam: tidak mungkin mengenal Allah yang adalah hidup, sambil memelihara kebencian yang mematikan. Allah tidak dikenal melalui pengalaman mistik yang terlepas dari relasi, melainkan melalui kehidupan yang dibentuk oleh kasih-Nya.

Pusat dari seluruh argumen Yohanes adalah Kristus: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita” (ay. 16). Di sinilah Allah yang tak terselami menjadi sungguh dikenal. Salib bukan hanya peristiwa penebusan, tetapi wahyu tentang siapa Allah itu. Allah dikenal bukan sebagai Penguasa yang menjaga jarak, melainkan sebagai Dia yang menyerahkan diri.

Karena itu, kasih Kristen tidak pernah netral atau aman. Ia selalu berisiko, karena ia mengikuti pola Kristus. Menyerahkan nyawa tidak selalu berarti mati secara literal, tetapi selalu berarti melepaskan pusat hidup dari ego. Kasih menuntut keberanian untuk tidak lagi menjadikan diri sebagai ukuran segalanya.

Yohanes lalu membawa kasih ke wilayah yang paling konkret dan paling sering dihindari: harta dan kekurangan (ay. 17). Ia tidak berbicara tentang kejahatan besar, melainkan tentang hati yang menutup diri. Bukan karena tidak mampu memberi, tetapi karena tidak mau terlibat. Di sinilah iman sering gagal—bukan pada pengakuan, tetapi pada kehadiran.

Kasih Allah, kata Yohanes, tidak dapat tinggal dalam hati yang secara sadar memilih untuk tidak peduli. Ini bukan soal moralitas individual, melainkan soal kehadiran Allah itu sendiri. Allah yang dikenal dalam Kristus selalu bergerak menuju yang menderita. Maka iman yang diam di hadapan penderitaan adalah iman yang kehilangan sumbernya.

Akhirnya Yohanes menutup dengan suara seorang gembala: “Anak-anakku…” (ay. 18). Ia tidak memaksa, tidak mengancam. Ia mengundang. Kasih tidak bisa diproduksi lewat tekanan; ia bertumbuh dalam relasi yang aman dan membebaskan. Maka Yohanes mengajak: mengasihi bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan dan kebenaran.

Di sinilah seluruh surat ini menemukan nadanya. Kehidupan yang saling mengasihi bukan proyek moral, melainkan buah pengenalan akan Allah yang hidup. Allah yang dikenal adalah Allah yang menyatakan diri, dan penyataan itu membentuk manusia menjadi subjek yang mampu mengasihi—bukan karena kuat, tetapi karena telah dibebaskan.

Kasih, pada akhirnya, bukan sekadar tanda iman yang sehat. Ia adalah bukti bahwa Allah sungguh dikenal, bahwa terang benar-benar tinggal, dan bahwa kehidupan—bukan maut—yang sedang berkuasa.

Komentar