Pendahuluan
Ada banyak cara untuk berbicara
tentang Tuhan, tetapi jauh lebih sedikit cara untuk sungguh-sungguh mengenal
Dia. Kita hidup di zaman di mana kata “mengenal” sering dipersempit menjadi
mengetahui: mengetahui ayat, mengetahui doktrin, mengetahui tata ibadah, bahkan
mengetahui bahasa rohani yang tepat untuk situasi tertentu. Namun di tengah
semua pengetahuan itu, tidak jarang kita justru kehilangan keintiman—kehilangan
getar relasi yang hidup dengan Allah.
Pada malam sebelum
salib, Yesus tidak meninggalkan definisi iman yang rumit. Ia tidak merangkum
iman dalam sistem teologi yang panjang. Dalam doa-Nya yang paling dalam, Ia
hanya berkata dengan jujur dan telanjang:
“Inilah hidup yang
kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau…”
(Yoh. 17:3)
Kalimat ini tidak
terdengar heroik. Tidak dramatis. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Hidup kekal, kata Yesus, bukan terutama tentang ke mana kita pergi setelah
mati, melainkan bagaimana kita hidup sekarang dalam relasi dengan Allah.
Mengenal Tuhan yang
Tidak Jauh
Yesus menengadah ke
langit dan menyebut Allah sebagai Bapa. Tidak ada jarak yang dingin di sana.
Yang ada adalah relasi yang penuh kepercayaan. Ketika Yesus berbicara tentang
kemuliaan, Ia tidak menunjuk pada tahta, mahkota, atau sorak-sorai, melainkan pada
ketaatan sampai akhir—menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan
kepada-Nya.
Di titik ini, kita
dihadapkan pada pertanyaan yang tidak nyaman: Apakah kita mengenal Tuhan
yang hidup, atau hanya Tuhan yang kita pahami?
Karena mengenal Tuhan
dalam Yohanes 17 bukanlah pengetahuan yang membuat kita merasa aman, melainkan
relasi yang membawa kita ke salib—ke tempat di mana ego dilucuti, kepastian
manusia runtuh, dan kepercayaan kepada Allah menjadi satu-satunya pegangan.
Mengenal Tuhan yang
Harus Dikejar
Nada yang sama
terdengar dalam seruan Hosea:
“Marilah kita mengenal
dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN.”
Hosea berbicara kepada
umat yang fasih beribadah, tetapi miskin kesetiaan. Mereka tahu bagaimana
kembali kepada Tuhan dengan kata-kata, tetapi tidak dengan hidup. Maka Hosea
memakai kata yang keras: mengejar. Mengenal Tuhan tidak pernah netral.
Ia menuntut arah, komitmen, dan ketekunan.
Namun di sini juga kita
belajar satu hal penting: kesetiaan kita sering rapuh—seperti embun pagi yang
cepat hilang. Tetapi Tuhan tidak berubah. Ia tetap datang seperti fajar,
seperti hujan yang menghidupkan tanah kering. Artinya, pengenalan kita
kepada Tuhan selalu dimulai dari kesetiaan-Nya kepada kita, bukan
sebaliknya.
Mengenal Tuhan yang
Menjadi Dasar Kemegahan
Yeremia membawa kita
lebih jauh lagi. Di tengah bangsa yang bangga akan kecerdikan, kekuatan, dan
kekayaan, Tuhan berkata dengan nada tegas namun membebaskan:
“Siapa yang bermegah,
baiklah ia bermegah karena ini: bahwa ia mengenal Aku.”
Betapa sering kita
mengukur diri dari apa yang kita miliki—jabatan, kemampuan, pengaruh, bahkan
keberhasilan pelayanan. Yeremia mematahkan semua ukuran itu. Tuhan tidak
menanyakan seberapa kuat kita, tetapi apakah hidup kita mencerminkan kasih
setia, keadilan, dan kebenaran-Nya.
Mengenal Tuhan, menurut
nabi ini, selalu berbuah sosial. Ia tidak bersembunyi di ruang privat. Ia
tampak dalam cara kita memperlakukan sesama, terutama mereka yang lemah dan
terpinggirkan.
Mengenal Tuhan dan
Mengenal Diri
Di titik ini, suara
teologi Reformed bergema dengan jujur. Yohanes Calvin mengingatkan bahwa
pengenalan sejati akan Allah tidak pernah terpisah dari pengenalan akan diri
sendiri. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita sadar betapa kecil, rapuh,
dan bergantungnya kita. Dan justru di sanalah anugerah bekerja.
Calvin tidak pernah
memisahkan iman dari kehidupan. Baginya, mengenal Tuhan berarti hidup di
hadapan-Nya—coram Deo. Bukan hidup untuk tampil benar, melainkan hidup
yang terus-menerus dibentuk, ditegur, dan dipulihkan oleh firman dan Roh-Nya.
Maka iman tidak lagi
menjadi alat untuk merasa unggul, tetapi jalan untuk belajar rendah hati. Bukan
untuk memegahkan diri, tetapi untuk memuliakan Allah semata.
Penutup: Mengenal Tuhan
Dengan Sungguh
Mengenal Tuhan dengan
sungguh bukanlah pencapaian rohani yang bisa kita pamerkan. Ia adalah
perjalanan seumur hidup—penuh jatuh bangun, penuh pertobatan, penuh anugerah.
Ia dimulai ketika kita berhenti bersembunyi di balik pengetahuan, dan berani
tinggal dalam relasi.
Mengenal Tuhan dengan
sungguh berarti hidup dalam terang kasih setia-Nya, berjalan dalam
keadilan-Nya, dan belajar setia dalam kebenaran-Nya—hari demi hari, sampai
hidup kita sendiri menjadi doa yang memuliakan Dia.
Komentar
Posting Komentar