Mengenal Tuhan Dengan Sungguh Pekan Penatalayanan Hari Pertama – Yoh 17:1-5

 

Pendahuluan

Ada banyak cara untuk berbicara tentang Tuhan, tetapi jauh lebih sedikit cara untuk sungguh-sungguh mengenal Dia. Kita hidup di zaman di mana kata “mengenal” sering dipersempit menjadi mengetahui: mengetahui ayat, mengetahui doktrin, mengetahui tata ibadah, bahkan mengetahui bahasa rohani yang tepat untuk situasi tertentu. Namun di tengah semua pengetahuan itu, tidak jarang kita justru kehilangan keintiman—kehilangan getar relasi yang hidup dengan Allah.

Pada malam sebelum salib, Yesus tidak meninggalkan definisi iman yang rumit. Ia tidak merangkum iman dalam sistem teologi yang panjang. Dalam doa-Nya yang paling dalam, Ia hanya berkata dengan jujur dan telanjang:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau…” (Yoh. 17:3)

Kalimat ini tidak terdengar heroik. Tidak dramatis. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Hidup kekal, kata Yesus, bukan terutama tentang ke mana kita pergi setelah mati, melainkan bagaimana kita hidup sekarang dalam relasi dengan Allah.

Mengenal Tuhan yang Tidak Jauh

Yesus menengadah ke langit dan menyebut Allah sebagai Bapa. Tidak ada jarak yang dingin di sana. Yang ada adalah relasi yang penuh kepercayaan. Ketika Yesus berbicara tentang kemuliaan, Ia tidak menunjuk pada tahta, mahkota, atau sorak-sorai, melainkan pada ketaatan sampai akhir—menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada-Nya.

Di titik ini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang tidak nyaman: Apakah kita mengenal Tuhan yang hidup, atau hanya Tuhan yang kita pahami?

Karena mengenal Tuhan dalam Yohanes 17 bukanlah pengetahuan yang membuat kita merasa aman, melainkan relasi yang membawa kita ke salib—ke tempat di mana ego dilucuti, kepastian manusia runtuh, dan kepercayaan kepada Allah menjadi satu-satunya pegangan.

Mengenal Tuhan yang Harus Dikejar

Nada yang sama terdengar dalam seruan Hosea:

“Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN.”

Hosea berbicara kepada umat yang fasih beribadah, tetapi miskin kesetiaan. Mereka tahu bagaimana kembali kepada Tuhan dengan kata-kata, tetapi tidak dengan hidup. Maka Hosea memakai kata yang keras: mengejar. Mengenal Tuhan tidak pernah netral. Ia menuntut arah, komitmen, dan ketekunan.

Namun di sini juga kita belajar satu hal penting: kesetiaan kita sering rapuh—seperti embun pagi yang cepat hilang. Tetapi Tuhan tidak berubah. Ia tetap datang seperti fajar, seperti hujan yang menghidupkan tanah kering. Artinya, pengenalan kita kepada Tuhan selalu dimulai dari kesetiaan-Nya kepada kita, bukan sebaliknya.

Mengenal Tuhan yang Menjadi Dasar Kemegahan

Yeremia membawa kita lebih jauh lagi. Di tengah bangsa yang bangga akan kecerdikan, kekuatan, dan kekayaan, Tuhan berkata dengan nada tegas namun membebaskan:

“Siapa yang bermegah, baiklah ia bermegah karena ini: bahwa ia mengenal Aku.”

Betapa sering kita mengukur diri dari apa yang kita miliki—jabatan, kemampuan, pengaruh, bahkan keberhasilan pelayanan. Yeremia mematahkan semua ukuran itu. Tuhan tidak menanyakan seberapa kuat kita, tetapi apakah hidup kita mencerminkan kasih setia, keadilan, dan kebenaran-Nya.

Mengenal Tuhan, menurut nabi ini, selalu berbuah sosial. Ia tidak bersembunyi di ruang privat. Ia tampak dalam cara kita memperlakukan sesama, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Mengenal Tuhan dan Mengenal Diri

Di titik ini, suara teologi Reformed bergema dengan jujur. Yohanes Calvin mengingatkan bahwa pengenalan sejati akan Allah tidak pernah terpisah dari pengenalan akan diri sendiri. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita sadar betapa kecil, rapuh, dan bergantungnya kita. Dan justru di sanalah anugerah bekerja.

Calvin tidak pernah memisahkan iman dari kehidupan. Baginya, mengenal Tuhan berarti hidup di hadapan-Nya—coram Deo. Bukan hidup untuk tampil benar, melainkan hidup yang terus-menerus dibentuk, ditegur, dan dipulihkan oleh firman dan Roh-Nya.

Maka iman tidak lagi menjadi alat untuk merasa unggul, tetapi jalan untuk belajar rendah hati. Bukan untuk memegahkan diri, tetapi untuk memuliakan Allah semata.

Penutup: Mengenal Tuhan Dengan Sungguh

Mengenal Tuhan dengan sungguh bukanlah pencapaian rohani yang bisa kita pamerkan. Ia adalah perjalanan seumur hidup—penuh jatuh bangun, penuh pertobatan, penuh anugerah. Ia dimulai ketika kita berhenti bersembunyi di balik pengetahuan, dan berani tinggal dalam relasi.

Mengenal Tuhan dengan sungguh berarti hidup dalam terang kasih setia-Nya, berjalan dalam keadilan-Nya, dan belajar setia dalam kebenaran-Nya—hari demi hari, sampai hidup kita sendiri menjadi doa yang memuliakan Dia.

Komentar