Ada masa dalam hidup
ketika iman tidak lagi diuji oleh dosa yang terang-terangan, melainkan oleh
pilihan-pilihan yang tampak wajar, masuk akal, dan disetujui banyak orang. Di
titik inilah iman menjadi sunyi, dan ketaatan terasa mahal. Bukan karena Tuhan diam,
tetapi karena suara-Nya sering berlawanan dengan logika yang kita anggap paling
aman.
Ibrani 11 tidak dibuka
dengan kemenangan, melainkan dengan perjalanan. Abraham dipanggil untuk
pergi—tanpa peta, tanpa kepastian tujuan, tanpa jaminan kenyamanan. Ia hanya
memiliki satu hal: firman Allah. Dan justru di situlah iman dimulai. Bukan
ketika semuanya jelas, tetapi ketika satu-satunya pegangan hanyalah kepercayaan
bahwa Allah tidak salah memimpin.
Abraham berangkat “dengan
tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Kalimat ini tidak romantis. Ia
jujur. Iman bukanlah keberanian yang dibungkus optimisme, melainkan ketaatan
yang lahir dari relasi. Abraham tidak tahu ke mana ia pergi, tetapi ia tahu kepada
siapa ia percaya.
Iman yang Berjalan,
Bukan Bersembunyi
Kita hidup di zaman
yang mengagungkan kepastian. Segala sesuatu harus terukur, terencana, dan
terjamin. Bahkan iman pun sering diminta untuk tunduk pada standar itu: selama
iman mendukung stabilitas, ketertiban, dan kepentingan umum, ia diterima. Namun
ketika iman memanggil seseorang untuk melangkah ke wilayah yang tidak aman,
iman mulai dianggap berbahaya.
Abraham tidak menunggu
situasi ideal. Ia taat bukan karena kondisi mendukung, melainkan karena
panggilan Allah mendesak. Di sinilah iman tidak berhenti sebagai pengakuan,
tetapi menjelma menjadi langkah konkret—langkah yang bisa disalahpahami,
dikritik, bahkan dianggap bodoh.
Ketaatan semacam ini
tidak spektakuler. Ia sering berlangsung dalam kesunyian, jauh dari
sorak-sorai. Tetapi justru di situlah iman menemukan bentuknya yang paling
jujur.
Tinggal dalam Janji,
Hidup dalam Ketegangan
Ibrani 11 mencatat
bahwa Abraham tinggal di tanah perjanjian seolah-olah di tanah asing. Ia
hidup di kemah, bukan di istana. Janji sudah diberikan, tetapi kepemilikan
belum sepenuhnya terwujud. Ini bukan kegagalan iman, melainkan cara Allah
membentuknya.
Hal serupa dialami
Ishak dalam Kejadian 26. Ketika kelaparan melanda, pilihan paling rasional
adalah pergi ke Mesir—pusat pangan dan kekuatan ekonomi. Namun Tuhan justru
berkata: “Jangan pergi ke Mesir.” Tinggallah. Percayalah. Aku akan
menyertai engkau.
Ishak dipanggil untuk
tinggal, bukan karena situasi aman, tetapi karena Allah setia. Iman tidak
selalu mengajak kita bergerak; kadang ia menuntut kita bertahan. Dan bertahan
sering kali lebih berat daripada pergi.
Hidup oleh Iman, Bukan
oleh Jaminan
Roma 1:17 menegaskan
bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Hidup—bukan sekadar diselamatkan,
tetapi dijalani hari demi hari—ditopang bukan oleh sistem, struktur, atau
kekuasaan, melainkan oleh kepercayaan kepada Allah yang benar.
Ayat ini menyingkap
ilusi yang kerap kita pelihara: bahwa hidup akan aman jika sistem bekerja
dengan baik. Padahal sejarah menunjukkan betapa rapuhnya semua jaminan manusia.
Kebijakan berubah, kepemimpinan berganti, janji-janji mudah direvisi. Namun
iman Kristen tidak berdiri di atas kestabilan dunia, melainkan di atas
kesetiaan Allah.
Di sinilah iman menjadi
sikap kritis—bukan memberontak, tetapi tidak menaruh harapan terakhir pada apa
pun selain Tuhan.
Menantikan Kota yang
Mempunyai Dasar
Abraham tidak sekadar
berjalan menuju tanah. Ia menantikan kota. Bukan kota yang dibangun oleh tangan
manusia, tetapi kota yang direncanakan dan didirikan oleh Allah sendiri. Kota
yang mempunyai dasar.
Ini bukan pelarian dari
dunia, melainkan pengakuan bahwa dunia tidak pernah menjadi tujuan akhir. Iman
memberi jarak yang sehat antara kita dan kekuasaan, antara kita dan janji-janji
besar yang sering gagal ditepati.
Abraham hidup di tengah
sejarah, tetapi hatinya tertambat pada pengharapan eskatologis. Ia terlibat,
tetapi tidak larut. Ia taat, tetapi tidak naïf.
Iman yang Bertahan di
Tengah Keterbatasan
Sara menerima kekuatan
bukan karena tubuhnya sanggup, melainkan karena ia menganggap Allah setia. Dari
ketidakmungkinan, Allah menumbuhkan kehidupan. Dari satu orang yang hampir
mati, lahirlah keturunan yang tak terhitung.
Di sini iman tidak
menghapus realitas keterbatasan, tetapi menempatkannya di hadapan Allah. Iman
tidak berkata, “Aku mampu,” melainkan, “Allah setia.”
Penutup: Ketaatan yang
Tidak Selalu Aman
Percaya serta taat pada
Tuhan berarti menerima kenyataan bahwa iman tidak selalu membawa kita ke tempat
yang nyaman. Ia sering membawa kita ke ruang antara: antara janji dan
penggenapan, antara harapan dan realitas, antara ketaatan dan ketidakpastian.
Namun justru di ruang
itulah iman dimurnikan. Bukan iman yang bergantung pada hasil cepat, tetapi
iman yang setia berjalan bersama Allah.
Dan mungkin, itulah
bentuk iman yang paling dibutuhkan hari ini: iman yang tidak sibuk mencari
jaminan, tetapi setia mendengar dan melangkah— karena percaya bahwa Tuhan tidak
pernah salah memimpin umat-Nya.
Komentar
Posting Komentar