Percaya serta Taat pada Tuhan Pekan Penatalayanan Hari Kedua – Ibrani 11:8-12

 

Ada masa dalam hidup ketika iman tidak lagi diuji oleh dosa yang terang-terangan, melainkan oleh pilihan-pilihan yang tampak wajar, masuk akal, dan disetujui banyak orang. Di titik inilah iman menjadi sunyi, dan ketaatan terasa mahal. Bukan karena Tuhan diam, tetapi karena suara-Nya sering berlawanan dengan logika yang kita anggap paling aman.

Ibrani 11 tidak dibuka dengan kemenangan, melainkan dengan perjalanan. Abraham dipanggil untuk pergi—tanpa peta, tanpa kepastian tujuan, tanpa jaminan kenyamanan. Ia hanya memiliki satu hal: firman Allah. Dan justru di situlah iman dimulai. Bukan ketika semuanya jelas, tetapi ketika satu-satunya pegangan hanyalah kepercayaan bahwa Allah tidak salah memimpin.

Abraham berangkat “dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Kalimat ini tidak romantis. Ia jujur. Iman bukanlah keberanian yang dibungkus optimisme, melainkan ketaatan yang lahir dari relasi. Abraham tidak tahu ke mana ia pergi, tetapi ia tahu kepada siapa ia percaya.

Iman yang Berjalan, Bukan Bersembunyi

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kepastian. Segala sesuatu harus terukur, terencana, dan terjamin. Bahkan iman pun sering diminta untuk tunduk pada standar itu: selama iman mendukung stabilitas, ketertiban, dan kepentingan umum, ia diterima. Namun ketika iman memanggil seseorang untuk melangkah ke wilayah yang tidak aman, iman mulai dianggap berbahaya.

Abraham tidak menunggu situasi ideal. Ia taat bukan karena kondisi mendukung, melainkan karena panggilan Allah mendesak. Di sinilah iman tidak berhenti sebagai pengakuan, tetapi menjelma menjadi langkah konkret—langkah yang bisa disalahpahami, dikritik, bahkan dianggap bodoh.

Ketaatan semacam ini tidak spektakuler. Ia sering berlangsung dalam kesunyian, jauh dari sorak-sorai. Tetapi justru di situlah iman menemukan bentuknya yang paling jujur.

Tinggal dalam Janji, Hidup dalam Ketegangan

Ibrani 11 mencatat bahwa Abraham tinggal di tanah perjanjian seolah-olah di tanah asing. Ia hidup di kemah, bukan di istana. Janji sudah diberikan, tetapi kepemilikan belum sepenuhnya terwujud. Ini bukan kegagalan iman, melainkan cara Allah membentuknya.

Hal serupa dialami Ishak dalam Kejadian 26. Ketika kelaparan melanda, pilihan paling rasional adalah pergi ke Mesir—pusat pangan dan kekuatan ekonomi. Namun Tuhan justru berkata: “Jangan pergi ke Mesir.” Tinggallah. Percayalah. Aku akan menyertai engkau.

Ishak dipanggil untuk tinggal, bukan karena situasi aman, tetapi karena Allah setia. Iman tidak selalu mengajak kita bergerak; kadang ia menuntut kita bertahan. Dan bertahan sering kali lebih berat daripada pergi.

Hidup oleh Iman, Bukan oleh Jaminan

Roma 1:17 menegaskan bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Hidup—bukan sekadar diselamatkan, tetapi dijalani hari demi hari—ditopang bukan oleh sistem, struktur, atau kekuasaan, melainkan oleh kepercayaan kepada Allah yang benar.

Ayat ini menyingkap ilusi yang kerap kita pelihara: bahwa hidup akan aman jika sistem bekerja dengan baik. Padahal sejarah menunjukkan betapa rapuhnya semua jaminan manusia. Kebijakan berubah, kepemimpinan berganti, janji-janji mudah direvisi. Namun iman Kristen tidak berdiri di atas kestabilan dunia, melainkan di atas kesetiaan Allah.

Di sinilah iman menjadi sikap kritis—bukan memberontak, tetapi tidak menaruh harapan terakhir pada apa pun selain Tuhan.

Menantikan Kota yang Mempunyai Dasar

Abraham tidak sekadar berjalan menuju tanah. Ia menantikan kota. Bukan kota yang dibangun oleh tangan manusia, tetapi kota yang direncanakan dan didirikan oleh Allah sendiri. Kota yang mempunyai dasar.

Ini bukan pelarian dari dunia, melainkan pengakuan bahwa dunia tidak pernah menjadi tujuan akhir. Iman memberi jarak yang sehat antara kita dan kekuasaan, antara kita dan janji-janji besar yang sering gagal ditepati.

Abraham hidup di tengah sejarah, tetapi hatinya tertambat pada pengharapan eskatologis. Ia terlibat, tetapi tidak larut. Ia taat, tetapi tidak naïf.

Iman yang Bertahan di Tengah Keterbatasan

Sara menerima kekuatan bukan karena tubuhnya sanggup, melainkan karena ia menganggap Allah setia. Dari ketidakmungkinan, Allah menumbuhkan kehidupan. Dari satu orang yang hampir mati, lahirlah keturunan yang tak terhitung.

Di sini iman tidak menghapus realitas keterbatasan, tetapi menempatkannya di hadapan Allah. Iman tidak berkata, “Aku mampu,” melainkan, “Allah setia.”

Penutup: Ketaatan yang Tidak Selalu Aman

Percaya serta taat pada Tuhan berarti menerima kenyataan bahwa iman tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Ia sering membawa kita ke ruang antara: antara janji dan penggenapan, antara harapan dan realitas, antara ketaatan dan ketidakpastian.

Namun justru di ruang itulah iman dimurnikan. Bukan iman yang bergantung pada hasil cepat, tetapi iman yang setia berjalan bersama Allah.

Dan mungkin, itulah bentuk iman yang paling dibutuhkan hari ini: iman yang tidak sibuk mencari jaminan, tetapi setia mendengar dan melangkah— karena percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memimpin umat-Nya.

Komentar