Persekutuan Yang Bersatu Pekan Penatalayanan Hari Keenam – Kis 11:22-30 Vic Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM

 

Persekutuan yang bersatu tidak lahir dari kesamaan selera, latar belakang, atau cara berpikir. Ia lahir dari keberanian iman untuk mempercayai bahwa Allah bekerja juga—dan sering kali justru—melalui orang lain yang berbeda dari kita. Kisah Para Rasul 11:22–30 menyingkapkan sebuah komunitas Kristen mula-mula yang sedang belajar hidup dalam ketegangan antara perbedaan, kepercayaan, dan kesetiaan pada karya Roh Kudus. Dari sanalah persekutuan sejati dibentuk.

1. Persekutuan Dimulai dari Kepekaan Melihat Kasih Karunia Allah

Ketika kabar tentang pertumbuhan jemaat Antiokhia sampai ke Yerusalem, gereja induk berada di persimpangan penting. Mereka bisa bersikap defensif, curiga, atau merasa terancam. Namun yang mereka lakukan adalah mengutus Barnabas—bukan sebagai pengawas yang represif, melainkan sebagai saksi yang matang secara rohani.

Teks menyebutkan bahwa ketika Barnabas tiba di Antiokhia, ia “melihat kasih karunia Allah” (Kis. 11:23). Frasa ini sangat penting. Barnabas tidak pertama-tama melihat perbedaan liturgi, latar belakang etnis, atau potensi penyimpangan. Ia melihat anugerah. Ini adalah kualitas rohani yang menentukan apakah sebuah komunitas akan bertumbuh atau terpecah.

Di sini kita belajar bahwa persekutuan yang bersatu menuntut mata iman—mata yang dilatih untuk mengenali karya Allah sebelum sibuk mengoreksi sesama. Dalam konteks berjemaat dan berorganisasi, sering kali konflik tidak bermula dari kesalahan besar, tetapi dari ketidakmampuan melihat kebaikan Allah dalam diri orang lain.

2. Firman Allah sebagai Dasar Kesatuan, Bukan Alat Dominasi

Pengalaman Antiokhia tidak bisa dilepaskan dari fondasi yang telah kita lihat dalam Nehemia 8:1–12. Di sana, umat Allah dipulihkan bukan oleh tembok yang kokoh, melainkan oleh firman yang dibacakan, dijelaskan, dan dimengerti bersama. Kesatuan tidak dibangun lewat paksaan, tetapi lewat pemahaman bersama akan kehendak Allah.

Hal yang sama terjadi di Antiokhia. Barnabas dan Saulus tinggal selama satu tahun penuh untuk mengajar jemaat. Ini menunjukkan bahwa persekutuan yang bersatu membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen pada pembinaan iman. Firman Allah tidak dipakai untuk menundukkan perbedaan, melainkan untuk membentuk karakter bersama.

Dalam banyak organisasi—termasuk gereja—firman, visi, atau aturan sering disalahgunakan sebagai alat kontrol. Nehemia 8 dan Kisah 11 mengoreksi praktik ini: firman membangun kesatuan ketika ia dimengerti bersama, bukan dipaksakan sepihak.

3. Kepercayaan sebagai Fondasi Kepemimpinan yang Sehat

Salah satu momen paling menentukan dalam perikop ini adalah keputusan Barnabas untuk mencari Saulus. Secara historis, Saulus masih membawa reputasi masa lalu yang tidak mudah dilupakan. Banyak orang belum sepenuhnya mempercayainya. Namun Barnabas melihat lebih jauh: ia mempercayai karya Allah yang sedang membentuk Saulus.

Tindakan ini bukan sekadar strategi organisasi, tetapi tindakan iman. Barnabas rela berbagi ruang, otoritas, dan pengaruh. Dari sinilah kita belajar bahwa persekutuan yang bersatu membutuhkan kepemimpinan yang tidak posesif, tidak takut kehilangan peran, dan tidak alergi terhadap orang yang berbeda.

Dalam konteks berorganisasi, krisis sering muncul bukan karena kurangnya talenta, tetapi karena kurangnya kepercayaan. Kisah ini mengajarkan bahwa mempercayai orang lain—dengan segala keterbatasannya—adalah bagian dari mempercayai Allah sendiri.

4. Identitas Kristen Lahir dari Hidup Bersama, Bukan Label Formal

Menarik bahwa di Antiokhialah murid-murid untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis. 11:26). Identitas ini tidak muncul dari deklarasi doktrinal atau struktur organisasi yang mapan, melainkan dari cara hidup komunitas yang mencerminkan Kristus.

Ini penting bagi gereja dan organisasi Kristen masa kini. Identitas Kristen tidak terutama ditentukan oleh nama lembaga, pernyataan iman, atau simbol religius, tetapi oleh kualitas relasi: bagaimana perbedaan dikelola, bagaimana konflik disikapi, dan bagaimana kasih diwujudkan.

Persekutuan yang bersatu adalah kesaksian paling kuat tentang Injil—lebih kuat daripada program atau retorika rohani.

5. Persekutuan yang Bersatu Selalu Berbuah Solidaritas Nyata

Puncak kedewasaan jemaat Antiokhia terlihat ketika mereka merespons nubuat tentang kelaparan. Mereka tidak terjebak dalam sensasi rohani atau kepanikan eskatologis. Mereka bertindak: mengumpulkan bantuan “sesuai dengan kemampuan masing-masing” untuk saudara-saudara di Yudea.

Di sini terjadi pembalikan yang radikal: gereja non-Yahudi menolong gereja Yahudi. Persekutuan melampaui sejarah, identitas, dan luka lama. Kesatuan iman melahirkan tanggung jawab sosial.

Ibrani 10:25 menemukan maknanya di sini. Persekutuan bukan sekadar berkumpul, tetapi saling menopang, terutama ketika salah satu bagian tubuh menderita. Gereja dan organisasi yang bersatu tidak menutup mata terhadap kerentanan, tetapi menjadikannya ruang konkret untuk menghadirkan kasih Allah.

6. Menghargai Perbedaan sebagai Jalan Spiritualitas Komunal

Kisah Para Rasul 11:22–30 menegaskan bahwa perbedaan bukan musuh persekutuan. Justru di dalam perbedaan, iman diuji dan dimurnikan. Antiokhia tidak menjadi gereja misi karena seragam, tetapi karena berani hidup bersama di tengah kompleksitas.

Dalam konteks jemaat dan organisasi hari ini—yang sering terpolarisasi oleh pandangan teologis, generasi, budaya, dan gaya kepemimpinan—teks ini mengundang kita untuk kembali pada spiritualitas persekutuan: tinggal, mendengar, mempercayai, dan berbagi.

Persekutuan yang bersatu bukan berarti tanpa konflik, melainkan komunitas yang memilih untuk tidak saling meninggalkan.

Penutup: Tinggal Bersama sebagai Tindakan Iman

Persekutuan yang bersatu bukan proyek manusia, melainkan respons terhadap Allah yang lebih dulu mempersatukan kita di dalam Kristus. Seperti Nehemia 8 yang membawa umat dari tangisan menuju sukacita, seperti Ibrani 10:25 yang memanggil kita untuk tidak menjauhkan diri, dan seperti Kisah Para Rasul 11 yang menunjukkan gereja lintas batas, kita diajak untuk percaya bahwa Allah masih bekerja di tengah perbedaan.

Percaya kepada orang lain—dalam jemaat dan organisasi—adalah bagian dari percaya kepada Allah. Dan sering kali, justru melalui perbedaan itulah Roh Kudus membentuk persekutuan yang sungguh-sungguh bersatu.

Komentar