Tuhan Membebaskan Bangsa-Nya Pekan Penatalayanan Hari Keempat – Lukas 7:11-17 Vic Aron Ginting Manik, S.Si Teol C,CM

 

Di pintu gerbang kota Nain, dua arak-arakan bertemu: satu membawa kehidupan, satu membawa kematian. Injil Lukas tidak menempatkan peristiwa ini sebagai kebetulan naratif, melainkan sebagai wahyu tindakan Allah di dalam sejarah. Di hadapan jenazah seorang anak tunggal dan ratapan seorang janda, Yesus tidak sekadar menunjukkan empati manusiawi, tetapi menyatakan siapa Allah itu—Allah yang dapat dikenal karena Ia berkenan menyatakan diri-Nya.

Dalam perspektif Calvinis, pengenalan akan Allah (cognitio Dei) tidak pernah dimulai dari pencarian manusia, melainkan dari inisiatif Allah sendiri. Apa yang terjadi di Nain adalah contoh konkret dari accommodatio Dei: Allah merendahkan diri-Nya, hadir dalam ruang penderitaan manusia, supaya Ia dikenal bukan sebagai konsep, melainkan sebagai Tuhan yang hidup dan bertindak.

Pembebasan sebagai Wahyu Allah yang Dikenal

Mukjizat kebangkitan di Nain lahir bukan dari iman janda itu—tidak ada permohonan, tidak ada pengakuan iman eksplisit. Justru Lukas menekankan satu hal: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” Di sinilah teologi Reformed berbicara dengan jelas: kasih karunia mendahului respons manusia.

Dalam Doctrine of the Knowability of God, Calvin menegaskan bahwa manusia tidak mampu mengenal Allah dengan benar melalui spekulasi atau pengalaman religius semata. Allah hanya dapat dikenal sejauh Ia menyatakan diri-Nya melalui karya dan firman-Nya. Di Nain, Allah menyatakan diri-Nya bukan lewat diskursus teologis, melainkan lewat tindakan pembebasan. Firman Yesus—“Hai anak muda, bangkitlah!”—bukan sekadar ucapan profetik, tetapi firman efektif Allah yang mencipta hidup dari kematian.

Allah yang Dikenal dalam Kehadiran, Bukan Abstraksi

Mazmur 16:11 menyatakan, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah.” Dalam kerangka Calvinis, sukacita ini tidak lahir dari pengalaman subjektif semata, melainkan dari pengenalan yang benar akan Allah yang hadir. Jalan kehidupan bukan hasil pencarian manusia, tetapi jalan yang diberitahukan oleh Allah.

Demikian pula dalam Yesaya 12:4–6, umat dipanggil untuk bersyukur dan bersaksi bukan karena mereka berhasil memahami Allah secara total, tetapi karena Allah yang Mahakudus itu “agung di tengah-tengahmu.” Pengenalan akan Allah selalu bersifat relasional dan responsif: umat mengenal Allah karena terlebih dahulu dikenal dan dikunjungi oleh-Nya.

Pengharapan yang Ditundukkan pada Wahyu

Pemikiran Paulo Freire tentang pengharapan sebagai praxis—refleksi dan tindakan—memberi dialog yang berguna, namun perlu ditempatkan secara teologis. Dalam iman Kristen Reformed, pengharapan tidak bersumber dari kesadaran kritis manusia, melainkan dari wahyu dan janji Allah.

Yesus di Nain tidak memulai dari analisis struktural penderitaan janda itu, meskipun dampaknya jelas bersifat sosial. Ia memulai dari inisiatif ilahi. Dengan demikian, pengharapan Kristen bukan pertama-tama proyek emansipasi manusia, melainkan partisipasi dalam karya Allah yang telah dan sedang bertindak.

Di sinilah koreksi teologis terhadap Freire menjadi penting: praksis pembebasan bukan fondasi pengharapan, melainkan buahnya. Manusia bertindak bukan untuk membuat Allah hadir, tetapi karena Allah telah hadir dan menyatakan diri-Nya.

Dari Pengenalan Allah Menuju Kesaksian Bangsa

Respons orang banyak di Nain—“Allah telah melawat umat-Nya”—menunjukkan pola teologis yang konsisten:

1.      Allah bertindak.

2.      Allah dikenal melalui tindakan itu.

3.      Umat bersaksi dan memuliakan Allah.

Pola ini sejalan dengan Yesaya 12, di mana keselamatan Allah mendorong umat untuk memasyhurkan nama-Nya di antara bangsa-bangsa. Dalam teologi Reformed, misi gereja bukan upaya memperkenalkan Allah yang belum dikenal, tetapi memberitakan Allah yang telah menyatakan diri-Nya.

Allah yang Dapat Dikenal karena Ia Berkenan Menyatakan Diri

“Tuhan Membebaskan Bangsa-Nya” bukan pernyataan optimisme teologis, melainkan pengakuan iman yang berakar pada wahyu Allah. Di Nain, di mazmur, dan dalam nyanyian Yesaya, kita melihat satu kebenaran yang sama: Allah dapat dikenal karena Ia turun, hadir, dan bertindak di tengah sejarah manusia.

Dalam terang Doctrine of the Knowability of God, pembebasan bukan sekadar perubahan keadaan, tetapi pengenalan akan Allah yang hidup. Dan pengharapan Kristen bukan keberanian manusia menatap masa depan, melainkan keyakinan iman bahwa Allah yang telah melawat umat-Nya akan terus menyatakan diri-Nya—hingga sukacita berlimpah-limpah dinyatakan sepenuhnya.

Komentar