“Tolong Aku dalam Kesusahan” - Minggu Sexagesima

 

Minggu Sexagesima mengantar jemaat masuk ke wilayah yang tidak nyaman:
wilayah di mana harapan manusia runtuh, logika manusia gagal, dan kesalehan religius kehilangan daya selamatnya.

Di sinilah tema “Tolong Aku dalam Kesusahan” menemukan kedalaman maknanya—bukan sebagai teriakan darurat, melainkan sebagai pengakuan eksistensial manusia yang tak lagi mampu menyelamatkan diri.

Pendalaman Teks Invocatio - Ketika Pimpinan dan Pemerintahan Gagal Menjadi Harapan

Ratapan 1:11 lahir dari reruntuhan Yerusalem. Kota yang dahulu menjadi simbol kehadiran Allah kini lapar, hancur, dan kehilangan martabat. Yang paling menyayat bukan hanya penderitaan rakyat, tetapi lenyapnya harapan kepada para pemimpin dan sistem pemerintahan yang seharusnya melindungi kehidupan.

“Seluruh rakyatnya mengeluh sambil mencari roti…”

Ratapan ini bukan sekadar kritik politik, melainkan pengakuan pahit:
struktur manusia—kepemimpinan, kekuasaan, dan tata sosial—tidak sanggup menjadi penyelamat. Ketika manusia berharap pada pemimpin, hukum, dan kekuatan institusional, yang tersisa justru kehampaan dan kelaparan.

Ratapan 1:11 mengajarkan bahwa kesusahan manusia sering kali diperparah oleh harapan yang salah arah. Di titik ini, manusia mulai belajar bahwa keselamatan tidak dapat dihasilkan oleh sistem, betapapun idealnya.

Pendalaman Teks Bacaan Pertama - Ketika Pengertian Manusia Mengaburkan Rencana Allah

Dalam Markus 9:30–32, Yesus berbicara secara terbuka tentang penderitaan, penolakan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Ironisnya, justru para murid—yang paling dekat dengan-Nya—tidak mengerti.

Bukan karena Yesus berbicara samar, tetapi karena pengertian manusia memiliki agenda sendiri. Para murid mengharapkan Mesias yang kuat, menang, dan memulihkan kejayaan. Maka salib bukan kabar baik, melainkan gangguan terhadap harapan mereka.

Di sinilah tragedi iman terjadi: ketika pengertian manusia mencoba menafsirkan karya Allah, rencana penebusan justru menjadi kabur.

Mereka takut bertanya—bukan karena hormat, tetapi karena tak siap kehilangan gambaran Mesias versi mereka sendiri. Sexagesima menyingkapkan bahwa ketidakmengertian manusia bukan masalah intelektual, melainkan masalah hati yang belum rela dihancurkan.

Pendalaman Teks Khotbah - Ritual, Kesalehan, dan Akhir dari Segala Usaha Manusia

Mazmur 69 memperlihatkan tahap paling jujur dari perjalanan iman. Pemazmur telah melakukan banyak hal:

  • puasa,
  • penyangkalan diri,
  • kesungguhan religius,
  • bahkan menanggung cela demi Allah.

Namun semua itu tidak mengangkatnya dari lumpur kesusahan.

Justru di titik kelelahan total itulah pemazmur sampai pada pengakuan paling dalam:
bahwa bukan ritual yang menyelamatkan, bukan kesalehan yang memulihkan, melainkan anugerah Tuhan yang hadir di tengah proses hidup yang rapuh.

Mazmur 69 mengajarkan bahwa ritual tanpa anugerah hanya memperlelah iman. Kesalehan tanpa pengakuan ketidakberdayaan justru menjadi bentuk keangkuhan rohani yang halus.

Minggu Sexagesima: Anugerah yang Lahir dari Kehancuran

Jika Ratapan menunjukkan runtuhnya harapan pada kepemimpinan manusia, dan Injil Markus menyingkap kaburnya rencana Allah oleh pengertian manusia, maka Mazmur 69 membawa kita ke titik balik:

keselamatan hanya mungkin ketika
manusia berhenti mengandalkan dirinya sendiri.

“Tolong aku” bukan doa orang kuat, melainkan pengakuan orang yang telah kehilangan semua sandaran—pemimpin, logika, kesalehan, bahkan gambaran Allah versi dirinya sendiri.

Di sinilah Minggu Sexagesima membentuk iman jemaat:

  • bukan iman yang optimistis secara naif,
  • bukan iman yang religius secara mekanis,
  • melainkan iman yang lahir dari hati kosong dan rapuh.

Dan justru di ruang kosong itulah anugerah Allah menjadi penyempurna — bukan sebagai pelengkap usaha manusia, melainkan sebagai satu-satunya dasar keselamatan.

Penutup

Tema “Tolong Aku dalam Kesusahan” bukan ajakan untuk lebih rajin berdoa, tetapi undangan untuk membiarkan diri dihancurkan dari ilusi keselamatan diri.

Sexagesima mengajar jemaat bahwa:

Allah tidak menunggu manusia menjadi kuat untuk menolongnya, Ia menolong manusia yang telah berani mengaku : aku tidak sanggup.

Komentar