Ada satu ironi yang tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan umat Tuhan: Alkitab ada di tangan, tetapi tidak selalu hidup di hati. Kita memiliki kitab suci, membawanya ke gereja, bahkan mengutipnya—namun diam-diam, Firman itu bisa saja “hilang” dari arah hidup kita. Kisah dalam Kitab 2 Raja-raja 22:8–13 memperlihatkan kenyataan pahit itu dengan sangat jujur.
Pada masa Raja Yosia, Bait Allah masih berdiri. Ibadah masih berlangsung. Imam masih melayani. Tetapi ketika imam besar Hilkia menemukan “Kitab Taurat” di dalam Bait Tuhan, itu bukan sekadar penemuan benda yang terlupakan—itu adalah pengungkapan bahwa umat telah lama hidup tanpa arah Firman. Mereka tidak kekurangan agama, tetapi kehilangan dasar iman.
Dan di titik inilah, kisah itu menjadi sangat dekat dengan kita.
Firman yang Tidak Dibaca, Kehidupan yang Tidak Terarah
Penemuan kitab itu mengguncang. Ketika Safan membacakannya di hadapan Raja Yosia, reaksinya bukan kagum, melainkan gentar. Ia mengoyakkan pakaiannya—tanda bahwa ia menyadari satu hal yang mengerikan: mereka telah hidup jauh dari kehendak Tuhan, dan bahkan tidak menyadarinya.
Di sini kita belajar sesuatu yang mendasar:
Alkitab bukan sekadar kitab untuk diketahui, tetapi cermin yang menyingkapkan siapa kita sebenarnya.
KONFESI GBKP menegaskan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang ditulis oleh manusia dengan ilham Roh Kudus (bdk. Second Epistle to Timothy 3:16; Second Epistle of Peter 1:21). Artinya, ketika kita membaca Alkitab, kita tidak sedang membaca teks biasa—kita sedang berhadapan dengan suara Allah sendiri.
Namun persoalannya bukan pada keberadaan Firman, melainkan pada relasi kita dengan Firman itu. Yosia hidup di tengah sistem keagamaan yang mapan, tetapi tanpa kesadaran akan isi Taurat. Bukankah ini juga bisa terjadi pada gereja hari ini?
Alkitab: Kesatuan yang Hidup dan Berpusat pada Kristus
KONFESI GBKP juga mengingatkan bahwa Alkitab adalah satu kesatuan utuh—dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu—yang harus dipahami dengan benar dan bertanggung jawab. Seluruh kitab ini bukan kumpulan tulisan yang terpisah, melainkan satu kesaksian besar tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam sejarah.
Penemuan kitab Taurat pada zaman Yosia kemungkinan besar berkaitan dengan tradisi Kitab Ulangan—kitab yang berbicara tentang perjanjian, ketaatan, dan konsekuensi. Ketika kitab itu dibacakan, Yosia langsung memahami: bangsa ini sedang berjalan menjauh dari kehendak Tuhan.
Namun kesaksian Alkitab tidak berhenti pada hukum dan perjanjian. Seluruh Alkitab berpuncak pada satu pribadi: Yesus Kristus. Seperti yang dinyatakan dalam Injil Yohanes 1:14, Firman itu telah menjadi manusia. Inilah inti kesaksian Alkitab: Allah yang menyatakan diri-Nya secara penuh di dalam Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia.
Ketika Firman Dibaca, Hidup Tidak Bisa Tetap Sama
Respons Yosia tidak berhenti pada emosi. Ia tidak hanya merasa bersalah, tetapi mengambil langkah konkret: mencari kehendak Tuhan. Ia menyadari bahwa membaca Firman selalu menuntut respons.
Di sini kita menemukan pola iman yang sejati:
- Firman dibacakan
- hati disadarkan
- dosa diakui
- hidup diarahkan kembali
Inilah sebabnya Alkitab disebut sebagai dasar kehidupan orang percaya (bdk. Kitab Mazmur 119:105). Firman bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk menuntun langkah.
Namun pemahaman yang benar tidak lahir dari usaha manusia semata. Seperti ditegaskan dalam Surat 1 Korintus 2:10, hanya Roh Kudus yang membuka pengertian kita. Tanpa pertolongan-Nya, Alkitab bisa tetap menjadi teks—tanpa kuasa yang mengubah.
Masalah Kita Hari Ini
Kita hidup di zaman yang berbeda dari Yosia. Kita tidak perlu mencari Alkitab yang hilang—kita bisa mengaksesnya kapan saja. Tetapi justru di tengah kemudahan itu, kita menghadapi bahaya yang sama: Firman menjadi biasa.
Kita bisa membaca tanpa merenung, mendengar tanpa berubah, mengetahui tanpa menaati.
Padahal, Alkitab diberikan bukan untuk memenuhi pikiran, tetapi untuk membentuk kehidupan. Seperti ditegaskan dalam Surat Yakobus 2:14–26 dan Surat Galatia 5:22–23, iman yang hidup akan menghasilkan buah dalam tindakan nyata.
Jika Firman tidak mengubah hidup, mungkin kita belum benar-benar membacanya.
Baca Alkitab: Jalan Menuju Pembaruan
Kisah Yosia mengingatkan bahwa kebangunan rohani tidak dimulai dari program besar, tetapi dari satu hal sederhana: Firman Tuhan kembali dibaca dengan sungguh-sungguh.
Namun membaca Alkitab membutuhkan kesungguhan dan juga cara yang menolong. Di sinilah gereja memiliki peran penting untuk membimbing jemaat masuk dalam perjumpaan yang hidup dengan Firman.
Salah satu cara yang sangat kontekstual adalah BGA (Baca Gali Alkitab). Melalui metode ini, jemaat diajak membaca, menggali, dan mendiskusikan Firman secara bersama. Firman tidak hanya didengar, tetapi dipahami dalam komunitas dan diterapkan dalam kehidupan. BGA menjadikan Alkitab dekat—bukan hanya di mimbar, tetapi di tengah pergumulan sehari-hari.
Selain itu, gereja juga mengenal praktik Lectio Divina, sebuah tradisi kuno yang menolong orang percaya membaca Alkitab secara perlahan dan mendalam melalui tahapan membaca, merenungkan, berdoa, dan berdiam di hadapan Tuhan. Dalam keheningan itu, Firman tidak hanya dipahami, tetapi dialami.
Metode lain juga dapat menolong:
- renungan harian untuk menjaga ritme perjumpaan pribadi
- pembacaan Alkitab secara menyeluruh untuk melihat kesatuan besar Firman
- studi tematik untuk menjawab pergumulan konkret kehidupan
Semua ini bukan tujuan, melainkan sarana—agar Firman sungguh-sungguh hidup dalam diri umat.
Penutup
Mungkin hari ini kita tidak perlu menemukan Alkitab yang hilang di dalam gereja. Yang perlu kita temukan adalah kehilangan kita akan Firman itu sendiri.
Dan ketika kita mulai membaca kembali—dengan kerendahan hati, dengan pertolongan Roh Kudus, dan dengan kerinduan untuk taat—maka yang terjadi bukan sekadar pemahaman baru, tetapi kehidupan yang diperbarui.
Seperti Yosia, kita akan menyadari bahwa hidup yang benar tidak dimulai dari usaha manusia, tetapi dari Firman yang kembali ditemukan dan dihidupi.
Sebab Firman yang benar-benar dibaca… tidak pernah membiarkan hidup tetap sama.

Komentar
Posting Komentar