Mazmur yang Menghilang: Sebuah Opini Teologis tentang Ibadah yang Kehilangan Kejujuran

Ada sesuatu yang perlahan hilang, bukan dengan suara keras, tetapi justru dalam keheningan yang tidak disadari. Ia tidak diperdebatkan dalam sidang-sidang gereja, tidak menjadi agenda utama dalam rapat majelis, bahkan jarang muncul dalam diskusi teologis populer. Namun dampaknya nyata: gereja tetap bernyanyi, tetapi mungkin kehilangan salah satu bahasa imannya yang paling jujur—Mazmur.

Ironisnya, gejala ini tampak paling jelas dalam tradisi yang secara historis justru paling menekankannya, yaitu warisan John Calvin. Dalam kerangka teologi Calvin, kitab Book of Psalms bukan sekadar bagian dari Alkitab, melainkan ruang di mana seluruh dinamika jiwa manusia bertemu dengan Allah. Mazmur bukan hanya dibaca, tetapi dinyanyikan—bukan hanya dipahami, tetapi dialami.

Melalui Genevan Psalter, Calvin tidak sekadar menyediakan sarana musik, tetapi membentuk sebuah praktik iman: jemaat diajak untuk mengucapkan kembali Firman Tuhan kepada-Nya. Dalam perspektif ini, ibadah menjadi dialog, bukan monolog; partisipasi, bukan observasi.

Namun jika demikian kuatnya fondasi teologis tersebut, bagaimana mungkin Mazmur kini justru jarang terdengar dalam banyak gereja Reformed?

Apakah ini sekadar persoalan kontekstualisasi? Ataukah ada pergeseran yang lebih mendasar dalam cara gereja memahami dirinya sendiri di hadapan Tuhan?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan praktik dalam Catholic Church. Dalam tradisi Katolik, Mazmur tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam struktur liturgi, khususnya melalui praktik Liturgy of the Hours, di mana Mazmur dibacakan dan didoakan secara teratur dalam ritme harian gereja.

Di sini tampak sebuah kontras yang tidak sederhana. Di satu sisi, tradisi Katolik menjaga Mazmur melalui keteraturan dan kesinambungan liturgis. Di sisi lain, tradisi Calvinis pada awalnya berupaya menghidupkan Mazmur melalui partisipasi aktif seluruh jemaat. Dua pendekatan yang berbeda, tetapi sama-sama mengakui pentingnya Mazmur.

Namun mengapa dalam perkembangan selanjutnya, justru tradisi yang menekankan partisipasi itu tampak lebih cepat kehilangan praktik bermazmur?

Apakah mungkin karena partisipasi, tanpa disiplin, justru mudah larut dalam preferensi?
Ataukah karena struktur, meskipun sering dikritik sebagai kaku, justru mampu menjaga memori teologis gereja?

Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa dalam praktik awal di Jenewa, Mazmur tidak hanya berfungsi sebagai pujian, tetapi juga sebagai sarana pembentukan spiritualitas yang utuh—termasuk ruang bagi ratapan, pengakuan dosa, dan pergumulan eksistensial (Heron 2012; Witvliet n.d.). Dalam konteks ini, Mazmur bukan sekadar “genre musik rohani,” tetapi perangkat teologis yang membentuk cara jemaat memahami Allah dan dirinya sendiri.

Jika demikian, apa yang terjadi ketika Mazmur mulai digantikan oleh bentuk-bentuk nyanyian lain yang lebih selektif secara emosional?

Apakah gereja masih memiliki bahasa untuk meratap?
Apakah jemaat masih belajar mengungkapkan kebingungan imannya di hadapan Tuhan?
Ataukah ibadah perlahan menjadi ruang yang hanya menampung ekspresi iman yang “terkontrol” dan “positif”?

Di sisi lain, bahkan dalam tradisi Katolik, muncul dinamika menarik terkait penggunaan Mazmur. Beberapa bagian Mazmur—terutama yang bersifat imprecatory (mengandung kutukan)—kadang dihilangkan atau disesuaikan dalam praktik liturgi modern. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan tradisi yang menjaga Mazmur pun tetap bergumul dengan ketegangan antara kejujuran teks dan sensitivitas konteks.

Jika demikian, apakah persoalan sebenarnya bukan terletak pada tradisi tertentu, melainkan pada kecenderungan universal gereja untuk “memilih” bagian-bagian iman yang lebih mudah diterima?

Dalam konteks Indonesia, sejarah menunjukkan bahwa Mazmur pernah memiliki tempat yang signifikan. Studi Irving (2014) mengungkapkan bahwa Genevan Psalter telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan digunakan dalam kehidupan gereja di Nusantara sejak abad ke-18. Fakta ini menunjukkan bahwa bermazmur bukanlah praktik asing, melainkan bagian dari warisan gereja lokal itu sendiri.

Namun jika praktik tersebut kini semakin jarang ditemukan, pertanyaan yang muncul bukan hanya bersifat historis, tetapi juga teologis:

Apa yang berubah dalam cara gereja di Indonesia memahami ibadah?
Apakah perubahan ini memperkaya iman, atau justru menyederhanakannya?
Dan lebih jauh lagi, apakah gereja masih memberi ruang bagi seluruh spektrum pengalaman manusia di hadapan Allah, seperti yang dilakukan Mazmur?

Pada titik ini, refleksi menjadi tidak terhindarkan.

Mungkin persoalan utamanya bukan sekadar apakah gereja masih bermazmur atau tidak.
Mungkin pertanyaannya lebih dalam dari itu:

Apakah gereja masih berani jujur di hadapan Tuhan?

Sebab Mazmur, dengan segala kompleksitasnya, tidak pernah menawarkan iman yang sederhana. Ia menghadirkan iman yang berani bertanya, berani meragukan, berani berseru—dan tetap berpegang.

Jika bahasa seperti ini mulai hilang dari ibadah, apa yang sebenarnya sedang hilang dari spiritualitas gereja?

Dan jika gereja kehilangan bahasa untuk berbicara jujur kepada Tuhan,
masihkah ibadah menjadi tempat perjumpaan yang sejati?


Daftar Pustaka

Calvin, John. Commentary on the Book of Psalms. Grand Rapids: Baker Book House, 2003.

Heron, Alasdair. “Shaping the Worship of the Reformed Church in Geneva: Calvin on Prayer and Praise.” HTS Teologiese Studies / Theological Studies 68, no. 1 (2012).

Irving, David R. M. “The Genevan Psalter in Eighteenth-Century Indonesia and Sri Lanka.” Eighteenth-Century Music 11, no. 2 (2014): 235–255.

Wallace, Howard. “Calvin on Psalms: Reading His Hermeneutic from the Preface to His Commentary.” Pacifica 22, no. 3 (2009): 301–307.

Witvliet, John D. “A Reformed Approach to Psalmody: The Legacy of the Genevan Psalter.” Calvin Institute of Christian Worship.

de Visser, Arjan J. “The Genevan Psalter: 450 Years.” Clarion (2011).


Komentar